Blog

Pagar Alam: Surga Tersembunyi di Sumatera Selatan

 

Oleh: Ruli Amrullah

“Benteng alam inilah yang menyulitkan penjajah Belanda menjangkau daerah ini, belum lagi harus melewati beberapa sungai yang dahulu kala belum ada jembatannya” ucap teman seperjalanan saya Sutrisman Dinah. Setelah tujuh jam perjalanan darat dari kota Palembang, akhirnya kami sampai di Kotamadya Pagar Alam. Kepala saya sedikit pusing karena goncangan di dalam mobil sangat terasa akibat posisi tempat duduk tepat di atas ban belakang mobil yang beberapa kali masuk jalan berlobang akibat dari banyaknya mobil truk pengangkut batu bara yang melintas di jalur ini. Bukit Barisan memagari di sekeliling kota ini. Saat gelap menjelang, cahaya lampu memenuhi berbagai tempat di bawahnya.

Teman-teman dari berbagai komunitas fotografi di kota Palembang banyak yang sengaja datang ke sini untuk hunting (berburu) foto sekaligus berwisata. Selain memotret landscape, di sini kita juga bisa hunting foto dengan kategori human interest, budaya atau juga model dengan latar belakang alam yang indah. Hamparan hijau kebun teh membentang sejauh mata memandang dan berbasan langsung dengan hutan rimba Gunung Dempo. Aktifitas para pemetik the yang sebagian besar keturunan orang Jawa sangat menarik untuk di rekam kedalam memori kamera. Sebelum memotret ada baiknya kita meminta izin dan mengajak berbincang terlebih dahulu. Senyum dan canda kita dapat mencairkan suasana dan memberikan ekspresi pada hasil karya kita.

Hutan bambu di sini juga unik. Besarnya yang seukuran paha orang dewasa sering di jadikan latar untuk pemotretan model dan untuk foto-foto pernikahan (wedding). Lokasi hutan bamboo ini masih sedikit yang mengetahuinya. Untunglah Novian Fazli yang merupakan warga Pagar Alam yang juga seorang fotografer bersedia memandu kami kesana. Bagi yang suka memotret air terjun dan juga foto slow speed, Pagar Alam merupakan pilihan yang tepat. Mulai dari  yang mudah di akses seperti air terjun Lematang Indah, air terjun Mangkok dan air terjun Embun. Atau yang lokasinya cukup sulit di capai karena harus berjalan kaki seperti air terjun Tujuh Kenangan. Warga sekitar menyebut air terjun sebagai curup. Pencinta wisata sejarah akan di manjakan disini, karena banyaknya benda-benda peninggalan zaman megalitikum. Seperti kubur batu dan arca yang di sebut arca manusia dan dolmen. Ada juga arca manusia di lilit ular yang letaknya persis di tengah sawah. Disekitar arca ini banyak batu-batu besar yang bisa di jadikan latar depan (foreground) foto aktifitas para petani yang sedang mengolah sawah dan di padukan dengan latar belakang (background) Gunung Dempo yang di lokasi ini menunjukkan dua puncaknya. Air terjun dan benda-benda peninggalan zaman pra sejarah di Pagar Alam banyak yang baru di ketemukan dan di ketahui beberapa tahun terakhir ini. Sehingga masih banyak hal-hal yang dapat di eksplorasi dari tempat ini.

Kedatangan saya ke kota Pagar Alam lebih banyak untuk tujuan mendaki Gunung Dempo yang sangat mempengaruhi kontur alam dan budaya manusia yang tinggal di sekitarnya. Pada berbagai literatur yang ada, ketinggian gunung ini dinyatakan 3.159 meter di atas permukaan laut (dpl). Tapi saat kami melakukan pendataan ketinggian, Global Positioning Sistem (GPS) yang di operasikan oleh Gathot Noor Umam menunjukkan angka 3.183meter di atas permukaan laut. Saat itu kami memulai pendakian dari Tugu Rimau yang merupakan lokasi start cabang olah raga Paralayang saat PON XVI tahun 2004 yang lalu. Sama seperti tempat wisata lainnya, sampah yang di tinggalkan para pengunjung menodai keindahan yang ada. Jauh di atas Gunung Dempo pun mengalami hal serupa, terutama di lokasi bekas tempat berkemah.

Tips Memotret

Sebaiknya kita memantau cuaca di Pagar Alam sebelum pergi kesana melalui situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)(http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Meteorologi/Prakiraan_Cuaca_Propinsi.bmkg?prop=08) atau menanyakan teman kita yang tinggal di sana. Bawalah tas yang tahan air atau plastic untuk melindungi peralatan fotografi kita dari air hujan dan butiran air kabut. Jangan lupa payung, jas hujan atau ponco. Cuaca bisa berubah dengan cepat dari panas manjadi hujan atau berkabut karena Pagar Alam di pengaruhi oleh Gunung Dempo, sama seperti di daerah pegunungan lainnya. Biasanya Gunung Dempo terlihat jelas tanpa di tutupi kabut ketika pagi dan sore hari.

Tips Transportasi dan Akomodasi

Banyak terdapat penerbangan dari Kota Jakarta menuju kota Palembang dan sebaliknya. Kota Pagar Alam dapat di capai melalui kota Palembang dengan menempuh perjalanan darat selama tujuh jam. Bandara di kota Pagar Alam sedang di bangun dan rencananya akan selesai pada tahun 2012 ini.

Bis Telaga Biru melayani tujuan ke kota Pagar Alam dari kota Palembang; PO. Telaga Biru Putra nomor telepon: 0711-7078110. PO. Telaga Biru Wisata (antar alamat/ travel) nomor telepon: 0711-7060070 , juga dari kota Jakarta dan kota Yogyakarta; PO. Telaga Indah Armada nomor telepon: 021-5544666.

Untuk akomodasi kita dapat menginap di Villa dan Hotel Wisata Gunung Gare (Telepon: 0730-625057), Hotel Mirasa (Telepon: 0730-621266), Hotel Darma Karya (Telepon: 0730-621297) atau Villa Seganti Setungguan (Telepon: 0730-621736).

**

tulisan ini di muat di Majalah Chip Foto Video 05.2012

"Majalah

***

Palembang Photo Exhibition & Auction for Charity

Photo by Ruli Amrullah

Photo by Ruli Amrullah

Such natural disasters as the earthquake in Mentawai and the eruption of Merapi volcano has aroused tens of photographers in Palembang, South Sumatera, to participate in helping the disaster victims. The photographers consisting of photo journalists and photography hobbyists held a photo auction and exhibition as well to raise funds.

Taking place at the Palembang Indah Mall, the showcased photos were not put in frames but only clipped on clothesline flops. In the same area, there was an entertainment stage for local bands to perform their music. Themed as “Pray for Indonesia, Dari Palembang untuk Indonesia,” the event was organized by Komunitas Fotografi Sumatera Selatan, Komunitas Fotografi Yogyakarta, Yayasan Alumni Putri Sumsel, South Sumatera Music Community dan Palembang Indah Mall.

Photo by Ruli Amrullah

Photo by Ruli Amrullah

The committee succeeded to auction off more than 20 photos. Besides, they also gathered funds from visitors of the mall by providing some donation boxes.

From the charity event held on November 11-14, the fund of Rp 16,840,100 was collected. On November 19, the fund was officially handed over to Bank Sumsel Babel to distribute it then to people impacted by the disasters. Ruli Amrullah

**

artikel ini pernah di publikasi di:

http://www.exposure-magz.com/2010/11/24/palembang-photo-exhibition-auction-for-charity/

***

Rute Perjalanan Menuju Gunung Dempo via Kampung IV (Kota Pagar Alam)

Gunung Dempo bisa di capai antara lain melalui:

  • Pesawat Terbang dari Jakarta (Bandara Sukarno-Hatta) ke Palembang (Bandara Sultan Mahmud Badarudin II). Dari bandara ini dilanjutkan menuju Terminal Karya Jaya, bisa langsung menggunakan taksi atau naik ojek motor dengan tarif Rp 10.000 (tergantung negosiasi), turun di simpang empat Tanjung Siapi-api/ bandara, dilanjutkan naik bis kota jurusan Terminal Karya Jaya, ongkos standarnya Rp 5.000, tapi terkadang kondektur minta lebih dari itu. Sebelum naik bis ini, sebaiknya di tanyakan terlebih dahulu apakah bis ini akan menuju terminal, karena bila penumpang sepi, biasanya bis ini memutar di daerah Kertapati.  Ada bis Trans Musi (seperti bis Trans Jakarta) dari bandara menuju Masjid Agung di kota, tapi disebabkan banyaknya orang-orang yang dari dan ke bandara menggunakan kendaraan pribadi atau pun taksi, bis ini jarang terlihat/ standby di bandara.

  • Bis Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) dari Jakarta  menuju Palembang yang paling murah adalah Bis Kramat Djati, tiketnya seharga Rp 120.000, kelas bisnis AC. Berangkat dari Terminal Kampung Rambutan jam 14.00 WIB,  Terminal Rawamangun pukul 15.00 WIB, Terminal Lebak Bulus dan Terminal Kali Deres. Biasanya sampai di Terminal Karya Jaya – Palembang, jam 09.00 WIB.

  • Dari Terminal Karya Jaya Palembang di lanjutkan dengan naik travel (Rp 80.000) atau Bis Telaga Biru ekonomi non AC seharga Rp 40.000. Armada ini berangkat jam 8 pagi dan 5 sore setiap harinya. Lebih jelasnya, anda dapat menghubunginya di nomor (0711) 357576 untuk di Palembang atau (0730) 621592 di Pagar Alam. Pada kondektur bis, mintalah untuk di turunkan di Pabrik Teh PTPN VII (Persero) Pagar Alam atau di rumah Pak Anton. Tujuh jam perjalanan atau sekitar 300 km akan anda tempuh untuk menuju tempat ini. Sebaiknya kita waspada di Terminal Karya Jaya karena cukup rawan, selain ada preman, terkadang para calo dan pengamen memaksa ketika menawarkan jasanya.

  • Menuju Kampung IV dari Pabrik Teh PTPN VII (Persero) jika berjalan kaki atau trekking rata-rata di tempuh sekitar 3 jam. Jika tidak ingin capek duluan, bisa dengan menumpang truk teh. Biasanya dikenakan biaya Rp 10.000/ orang dan berangkatnya pagi-pagi sekali. Umumnya sopir akan menurunkan para pendaki di Kampung IV , karena jalan menuju Pintu Rimba medannya cukup berat, berupa jalan dengan batu-batu gunung sebesar kepalan tangan juga seukuran kepala orang dewasa. Tapi kalau sang sopir berbaik hati atau anda menawar untuk menambah ongkos, anda bisa diantarkan sampai jalan menuju Pintu Rimba. Dari Kampung IV, truk terakhir yang turun sekitar jam empat sore. Jika tak mau repot, anda bisa mencarter mobil untuk menuju serta turun dari Kampung IV. Kalau bingung, mintalah bantuan Pak Anton.

Rute Pendakian Gunung Dempo Melalui Kampung IV (Kota Pagar Alam)

Ini adalah rute dari jalur umum dan waktu tempuh standar para pendaki trekking ke Gunung Dempo Melalui Kampung IV:

  • Kampung IV – Pintu Rimba : 1 jam

  • Pintu Rimba – Shelter 1 : 2 jam

  • Shelter 1 – Dinding Lemari : 1 jam

  • Dinding Lemari – Shelter 2 : 1 jam 30 menit

  • Shelter 2 – Puncak Dempo : 2 jam 30 menit

Total waktu menuju Puncak Dempo adalah 8 jam, tetapi masih tergantung berapa lama anda istirahat.

  • Puncak Dempo – Pelataran/ Lembah Gunung Dempo : 15 menit

  • Pelataran/ Lembah Gunung Dempo – Puncak Gunung Api Dempo : 30 menit

Total waktu dari Puncak Dempo ke Puncak Gunung Api Dempo sekitar 45 menit.

Penginapan

Hotel, Villa Dan Wisma Wisata

Lokasinya terletak di kaki Gunung Dempo, sekitar 7 Km dari pusat Kota Pagar Alam. Dengan pemandangan perkebunan teh yang sangat indah, menjanjikan kesegaran, kenyamanan dan keramahan bagi anda. Di sekitar villa ini di jual barbagai cindera mata,teh dan asesoris. Fasilitas umumnya adalah restoran, lobby, meeting room, dan sarana olah raga outdoor.

Hotel Wisata

Terdiri dari 16 kamar Hotel Standar dengan fasilitas water heater, televisi dan lemari pakaian. Harga kamar Rp 200.000/ malam sudah termasuk PPN dan sarapan pagi.

Villa Wisata

Ada 6 buah Villa, 1 Villa terdiri dari 1 kamar Standar Double dan 2 kamar Standar Single. Fasilitasnya: living room, water heater, televisi dan dispenser. Harga sewa Villa ini Rp 750.000/ malam, termasuk PPN dan sarapan pagi.

Wisma Wisata

Terdapat 6 kamar wisma dengan daya tampung 120 orang, satu kamar wisma bisa untuk dua puluh orang. Biaya sewanya adalah Rp 500.000/ kamar permalam.

Restoran

Bagi para pengunjung yang ingin menikmati santapan yang nikmat, villa ini juga menyediakan restoran dengan suasana yang nyaman dan asri. Lokasinya yang strategis juga memudahkan pengunjung mencapainya.

Ruang Serba Guna

Gedung dengan ruangan yang luas juga di sediakan bagi para pengunjung yang memerlukan, untuk menyelenggarakan rapat perusahaan atau berbagai kegiatan lainnya.

Villa Besemah Pagar Alam

Lokasi villa ini juga terletak di kaki Gunung Dempo, kira-kira 10 Km dari pusat Kota Pagar Alam. Nuansa pegunungan alami dan hamparan perkebunan teh membuat nyaman istirahat anda. Dengan fasilitas umum: room service, coffee shop, area tea walk dan out door activity. Di sekitar villa ini juga di jual barbagai cindera mata,teh dan asesoris.

Villa Besemah 1 dan 2

Villa Besemah 1 terdiri dari 2 kamar Standar Double, dengan fasilitas televisi, living room, water heater dan dispencer. Harganya Rp 400.000/ malam. Sudah termasuk PPN dan breakfast. Sedangkan Villa Besemah 2 terdiri atas 3 kamar Standar Double, fasilitasnya  living room, water heater, televisi dan dispencer. Harga Rp 500.000/ malam. Ini juga  termasuk PPN dan sarapan pagi.

Villa Besemah Wisata

Mempunyai dua villa wisata deangan empat kamar paket ekonomis, dengan harga sewa senilai Rp 100.000/ malam, sudah termasuk PPN.

Villa Lesehan

Terdiri dari 2 kamar villa lesehan, yang masing-masing kamar mampu menampung sekitar dua puluh orang.

Untuk pemesanan kamar dan reservasi, dapat menghubungi:

Ratna Ichsan : 0812 734 2851

Iwan : 0815 32 966 379

Di sekitar hotel dan villa ini juga terdapat  hotel serta villa milik Pemerintah Kabupaten Lahat yang tarifnya cukup bersaing dengan hotel dan villa milik Pemerintah Kota Pagar Alam.

Objek Wisata Lainnya

Selain melakukan pendakian ke Gunung Dempo, di Kota Pagar Alam anda dapat mengunjungi objek wisata lain, diantaranya:

  • Wisata sejarah berupa batu-batu peninggalan zaman megalitikum, seperti kubur batu dan arca batu di lilit ular.

  • Wisata budaya, yaitu mengunjungi tempat pembuatan dan penjualan senjata tradisional Kota Pagar Alam yang disebut Kuduk.

  • Mengunjungi danau dan air terjun, misalnya Air Terjun Cadas Lumut, Air Terjun Semangka, Air Terjun Lematang Indah, dan Air Terjun Tujuh Kenangan.

***

Perayaan Cap Go Me di Pulau Kemaro, Palembang

   oleh: Ruli Amrullah

   Jika di hari-hari biasa Pulau Kemaro sepi dari pengunjung, hal ini akan sangat berbeda saat perayaan Cap Go Me. Sekitar 20.000 sampai 30.000 orang akan datang silih berganti ke pulau itu dari pagi hingga malam sampai keesokan harinya. Ada yang datang untuk beribadah, berziarah maupun sekedar berwisata. Tak hanya warga Palembang dan Sumatera Selatan yang datang, orang-orang dari berbagai provinsi di Indonesia juga menghadiri acara ini, contohnya dari Jambi, Lampung, Jakarta, Bangka, Belitung dan Sumatera Utara. Bahkan ada yang dari luar negeri, seperti dari Singapura, Malaysia dan Vietnam.

    Kemaro dalam bahasa Indonesia berarti kemarau. Dinamakan demikian karena pulau yang berada di tangah Sungai Musi ini tidak pernah terendam air walau volume sungai musi sedang meningkat alias pasang. Orang-orang di Palembang biasa menyebut delta sungai ini dengan Pulo Kemaro. Menurut legenda Pulau Kemaro yang populer di tengah masyarakat, pada era Kerajaan Palembang ada seorang putri raja bernama Siti Fatimah yang di sunting oleh seorang saudagar Tionghoa yang bernama Tan Bun An. Siti Fatimah diajak kedaratan tiongkok untuk melihat orang tua Tan Bun An.

Setelah di sana untuk beberapa waktu, Tan Bun An beserta istri pamit pulang ke Palembang dan di hadiahi tujuh buah guci. Sesampai di perairan Musi dekat Pulau Kemaro, Tan Bun An hendak melihat hadiah yang diberikan. Begitu di buka Tan Bun An sangat kaget karena isi guci itu ialah sawi-sawi asin. Tanpa banyak berpikir ia buang guci-guci itu kedalam sungai. Tetapi guci yang terakhir terjatuh dan pecah diatas dek perahu layar, ternyata ada hadiah berupa emas yang tersimpan didalamnya. Tan Bun An tak berpikir panjang, ia langsung melompat kedalam sungai untuk mencari guci-guci tadi. Seorang pengawal juga ikut terjun untuk membantu. Melihat kedua orang itu tidak muncul kembali ke permukaan, Siti Fatimah memutuskan masuk kedalam sungai untuk menolong. Ternyata ketiga orang tersebut tidak muncul lagi dari dalam sungai. Oleh karena itulah banyak penduduk mengkramatkan pulau ini dan datang ke sini untuk mengenang ketiga orang itu. Pada tahun 2009 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang membuat prasasti legenda ini, yang di letakkan pada bagian kiri klenteng.

"Judul

Foto sebuah Pagoda di Pulau Kemaro Palembang. Foto di ambil dengan memanfaatkan pepohonan yang ada di sekitarnya sebagai framing.” src=”https://ruliamrullah.files.wordpress.com/2012/09/dsc_3878_ruli-amrullah.jpg” width=”604″ height=”902″ />  Sebuah Pagoda di Pulau Kemaro Palembang.

Cap Go Me di rayakan 15 hari setelah Tahun Baru Imlek atau Sincia. Berlangsung selama dua hari. Di Palembang, perayaan ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Pada zaman penjajahan Belanda, umat Tridharma dipimpin oleh seorang Kapitan atau Kapiten, yaitu orang yang ditunjuk penguasa Belanda untuk mengurus orang-orang perantau Tionghoa. Rumah peninggalan Kapitan ini masih berdiri kokoh di daerah 5 Ulu dengan sebutan Kampung Kapiten.

Mendekati hari H, akan di bentuk panitia yang mengurusi segala keperluan untuk kegiatan di Pulau Kemaro ini. Disediakan angkutan gratis berupa kapal tongkang dan perahu ketek dari Benteng Kuto Besak (BKB) dan Klenteng Serikat di dekat Pasar 16 Ilir menuju pulau kemaro untuk pergi dan pulang (PP). Selama sekitar 30 menit pengunjung akan menyusuri hulu Sungai Musi ke arah timur sepanjang 5 kilometer dari sekitar kawasan Jembatan Ampera menuju pulau yang diapit pabrik PT. Pupuk Sriwijaya (Pusri) di Seberang Ilir dan kilang minyak PT. Pertamina Sungai Gerong di Seberang Ulu. Diluar hari perayaan Cap Go Me, pengunjung harus menyewa kapal atau naik perahu ketek bersama rombongan dengan tarif Rp 25.000. Pulau Kemaro juga dapat di capai melalui jalur darat melewati pabrik PT. Pupuk Sriwijaya (Pusri) dan masuk ke kawasan Intirub. Panitia membuat jembatan terapung dari kapal ponton yang menghubungkan Pulau Kemaro dan kawasan Intirub. Saat malam hari terjadi kemacetan di jalan menuju Intirub karena banyaknya kendaraan yang hendak mencapai tempat ini.

Pulau yang memiliki luas sekitar dua puluh empat hektar ini di dominasi oleh pepohonan. Begitu kita memasuki pulau, akan terlihat Klenteng Hok Cing Bio di hadapan. Dahulu kala kelenteng ini adalah bangunan dari kayu yang beratapkan dedaunan. Kini telah berubah menjadi bangunan tembok yang kokoh berwarna khas budaya Tionghoa yakni merah dipadu dengan kuning keemasan. Klenteng ini terdiri dari ruangan utama, ruang belakang dan dua menara tempat pembakaran uang emas. Begitu kita memasuki pintu utama kelenteng, disini terdapat gundukan tanah yang di percaya sebagai makam Siti Fatimah yang beragama islam, sehingga ada orang yang beragama islam juga mendatangi tempat ini. Didekatnya ada makam sang suami;  Tan Bun An dan pengawalnya.

Ketika Cap Go Me, disekitar makam ini dipenuhi oleh banyaknya sesajen yang dibawa oleh peziarah. Ada buah apel, pir, pisang, jeruk purut dan beraneka buah jeruk lainnya, juga nasi kuning, nasi liwet, ayam panggang, telur rebus, opak serta beragam bunga. Petugas khusus di siapkan panitia di dekat makam untuk mengatur persembahan ini. Kambing juga di sembelih untuk persembahan. Didalam klenteng umat Tridhama bersembahyang untuk Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), Dewi Kwan Im, Dewa Langit, Dewi Laut, Siti Fatimah dan penjaga Pulau Kemaro. Dihiasi nyala api pada lilin yang beraneka ukuran, semakin malam pengunjung semakin ramai. Puncak perayaan ini terjadi pada pukul 24.00 WIB, ruangan klenteng pun di penuhi asap hio dan garu yang di bakar untuk bersembahyang.

Dibelakang Klenteng Hok Cing Bio terdapat pagoda yang memiliki sembilan lantai, di resmikan pada tahun 2008 lalu. Peziarah maupun wisatawan banyak yang berfoto dengan latar belakang pagoda ini. Pulau Kemaro adalah bagian dari wisata Sungai Musi dan juga merupakan ikon wisata Kota Palembang. Setelah mengeliling beberapa bagian Sungai Musi dengan angkutan sungai, wisatawan singgah di pulau ini sebelum kembali lagi ke Benteng Kuto Besak (BKB) sebagai titik awal dan akhir wisata air di kota empek-empek ini.

Kemeriahan terasa di bagian luar klenteng dengan bunyi beragam alat musik. Mulai dari musik tempo dulu yakni tanjidor sampai musik pop dan Mandarin suguhan beberapa grup band. Kesenian tradisional China seperti barongsai, liong dan wayang orang China juga menghiasi perayaan Cap Go Me di pulau ini. Acara hiburan ini berakhir sampai jam tiga dini hari. Dibagian tengah pulau ini di buat lapak kayu beratap rumbia beserta tempat duduk untuk para pedagang makanan, minuman, aneka asesoris, mainan sampai ada yang menjual sepeda motor. Uang yang beredar disana berkisar dua miliar rupiah, sedangkan untuk di kota Palembang bisa lebih dari itu. Para pejabat dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang dan dari DPRD beserta rombongan turut hadir dalam perayaan ini. Walaupun banyak klenteng maupun vihara di kota Palembang, Pulau Kemaro yang di pilih menjadi pusat perayaan Cap Go Me. Diluar klenteng banyak pengemis yang menunggu pemberian uang dari para peziarah.

**

tulisan ini di muat di Majalah Garuda Februari 2011.

Majalah Garuda Februari 2011

Majalah Garuda Februari 2011

***

Menikmati Tanjakan Gunung Dempo

oleh Ruli Amrullah

Setelah 90 menit tergoncang-goncang di dalam bak mobil truk yang biasa mengangkut para pemetik teh serta karung-karung yang berisi daun teh yang baru di petik, akhirnya kami tiba di bawah jalur menuju Pintu Rimba Gunung Dempo. Agus Mulyana, seorang sahabat saya dari Kota Bogor tersenyum, saat truk melaju melintasi jalan aspal lalu batu gunung yang di kanan kirinya ’dihiasi’ banyak jurang, entah sudah berapa kali ia menanyakan: ”Masih jauh ya Rul?”. Ini merupakan kunjungan balasannya atas tetirah saya ke Gunung Gede dan Pangrango, tempat ia menjadi suka relawan (volunteer) Gede Pangrango Operation (GPO) di Gunung Putri, salah satu jalur pendakian Taman Nasional favorit pendaki Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

Kami bergabung dengan empat puluhan orang yang melakukan pendakian bersama Gunung Dempo hari itu, kegiatan ini di adakan oleh Edelweis Community, sebuah komunitas petualang di Kota Palembang. Baru saja memulai pendakian di gunung yang berada di wilayah administratif Kota Pagar Alam, kami sudah di sambut oleh tanjakan. Tanjakan yang memenuhi jalur di gunung inilah yang banyak di kenang para pendaki saat saya berjumpa dengan mereka di luar kota, jika membicarakan Gunung Dempo. Hanya satu jalur inilah yang umum di lalui untuk naik dan turun di gunung ini. Beberapa kelompok pendaki gunung pernah membuat jalur lain menuju puncaknya.

Sesampainya di Pintu Rimba, kami beristirahat bersama tiga pendaki lain sambil menikmati hamparan jajaran bukit barisan yang di hiasi hijaunya perkebunan teh. Pintu Rimba merupakan batas antara kebun teh milik PTPN VII dengan hutan kawasan Gunung Dempo. Ada papan nama yg berisi himbauan dan saran untuk para pendaki, yang juga sering di jadikan salah satu objek foto wajib di gunung tertinggi di Sumatera Selatan ini. Saya dan Agus sengaja berada di rombongan akhir pendakian, selain untuk menghindari padatnya pendaki di jalur apabila ada yang berhenti karena lelah, kami juga menjadi tim penyapu (sweeper) pendakian ini.

15 menit sudah kami berhenti, tapi seorang pendaki terakhir yang ada di bawah belum juga tiba di sini. Berulang kali saya berteriak memanggilnya, tetapi tetap tidak ada jawaban. Chen –nama julukan yang di berikan karena ia berwajah oriental mirip artis Jacky Chen, berinisiatif turun mencarinya. Beberapa menit kemudian ia telah kembali dan berkata ” Dia gak jadi naik (gunung), dia nunggu di rumah Pak Anton.” Pak Anton adalah seorang kakek yang dituakan oleh para pencinta alam di Sumatera Selatan yang tinggal di dekat Pabrik Teh PTPN VII.

Kemarin saya lihat dari wajah pendaki itu memang tampak kurang fit, di tambah 7 jam perjalanan darat dengan bis dari Palembang menuju Pagar Alam lalu kami tiba di depan Pabrik PTPN VII tengah malam. Saat saya dan yang lainnya mulai merebahkan diri untuk tidur, dia masih mengobrol dengan beberapa pendaki lain yang memang biasa tidur larut malam.

Melanjutkan pendakian, jalurnya bukan saja tanjakan tapi diapit oleh dinding sempit di kanan kirinya. Seperti berjalan di dalam got yang berasal dari tanah sedalam dengkul orang dewasa. Bila hujan dan sol alas kaki kita tidak mencengkeram dengan baik, maka bersiaplah untuk terpeleset. Tapi hal inilah yang sering mencairkan suasana, suara tawa mengiringi ketika teman seperjalanan kita jatuh terpeleset di trek ini.

Dua jam berjalan kami tiba di Shelter 1. Tidak ada bangunan pos peristirahatan di gunung ini, seperti lazimnya terdapat di gunung-gunung Pulau Jawa. Kami membuka isi tas untuk makan siang hari ini, pisang ambon dan roti mengisi perut guna mensuply energi perjalanan berikutnya. Ketika hendak turun ke sumber mata air di bawah untuk berwudhu, saya menawarkan roti ke para pendaki lain yang sedang memasak mie instan – menu wajib banyak pendaki pada umumnya, beberapa menit berselang roti pun hanya tinggal bungkusnya saja.

Lama berhenti, tubuh pun menjadi dingin. Pendakian kami lanjutkan kembali. 60 menit melangkah, sampailah kami di Tanjakan Dinding Lemari. Dinamakan demikian karena tanjakan ini terjal dan berbentuk lemari yang menempel pada sebuah dinding tanah setinggi 4 meter. Jalur ini licin jika disiram air hujan. Beberapa treknya membuat dengkul hampir menyentuh badan. Bukan disini saja, di jalur yang lain juga demikian. Kadang jalurnya berupa tanah, akar pohon dan batu cadas. Perlu bantuan tangan untuk melewatinya. Tanjakan-tanjakan ini akan menjadi kenangan bila kita mambawa beban berat di punggung. Jantung kita akan dipacu saat melintasinya.

Perjalanan kami hentikan di Shelter 2 untuk mengambil air. Banyak kisah beraroma mistik saat para pendaki bermalam di tempat ini. Ketika pertama kali mendaki gunung ini, saya berjumpa dengan pendaki yang sedang membaca Al Quran di Pintu Rimba. Mereka berkata bahwa tadi malam mendengar ada suara macan di sekitar tenda yang mereka dirikan di Shelter 2. Padahal hewan ini sudah jarang di jumpai di kawasan ini. Wajah mereka terlihat lelah karena kurang tidur dicampur sisa-sisa rasa takut tadi malam. Ada juga pendaki yang hilang disini karena ada suara yang memanggilnya saat larut malam, lalu ia pun mengikuti ajakan itu.

Selepas Shelter 2, Tanjakan Cadas telah menanti. Jalur batu cadas juga akar-akar pohon mendominasi lokasi ini. Di sebelah kiri jalur akan dijumpai batu prasasti in memoriam, atas nama Puyang Herlan, seorang pria kelahiran Jakarta. Terkadang ada uang logam, rokok dan permen untuk sesaji disini. Vegetasi mulai berubah dengan di penuhi oleh pohon Cantigi (Vaccinium Varingiaefolium) yang oleh para pendaki lokal biasa di sebut Kayu Panjang Umur atau populer disingkat menjadi KPU.

Agus mulai ’demam puncak’, ia melangkah cepat meninggalkan saya menuju puncak Gunung Dempo di atas sana. Memori saya berputar akan kenangan di jalur ini, saat pertama kali mendaki gunung, hujan datang di tempat ini. Jika berhenti, tidak ada tanah yang datar disini. Jika melanjutkan perjalanan, masih cukup jauh untuk sampai tempat mendirikan tenda. Sebuah pilihan yang sulit, lalu leader tim kami saat itu memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan melalui tanjakan berbatu yang dialiri air hujan mirip air terjun di taman kecil. Hasilnya kami pun basah dan kedinginan.

Hari mulai gelap saat saya mencapai puncak Gunung Dempo. Gunung yang tercatat memiliki ketinggian 3.159m dpl (meter di atas permukaan laut) ini mempunyai dua titik ketinggian. Pertama puncak Gunung Dempo atau juga disebut Top Dempo, dipenuhi pepohonan setinggi 2,5 meter yang banyak ditempeli papan petunjuk bahwa lokasi ini adalah puncak. Kedua Puncak Gunung Api Dempo. Agus sudah menunggu di sini untuk di abadikan dirinya beserta bendera organisasinya menggunakan kamera saya. Sebelum saya tiba, dia menengahi ’perang mulut’ suatu tim pendaki yang beranggotakan remaja usia Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ribut karena beberapa orang tidak mau bergantian membawa barang yang berat. Kami pun segera turun ke Lembah Gunung Dempo untuk bergabung dengan pendaki-pendaki yang telah mendirikan tenda di sana.

Lembah Gunung Dempo atau Pelataran Gunung Dempo – sebutan pendaki lokal untuk tempat ini, berada pada ketinggian 2998 meter di atas permukaan laut (dpl) memiliki banyak tanah datar yang luas, biasa di gunakan para pendakinya untuk menginap. Sewaktu saya bermalam di sini yang kebetulan bertepatan dengan Malam 1 Suro, ada 3 orang warga lokal yang sudah 21 hari ’berkemah’ dengan membuat tenda menggunakan plastik dan tikar. Ketika saya berada di dalam tendanya dan mengobrol, saya melihat air belerang dari kawah Gunung Api Dempo yang disimpan di dalam botol beling bekas sirup. Saya pun iseng bertanya: ’buat apa mas?”, ”oh, itu ’syaratnya’ untuk menunggu ’utusan’ datang!” ujarnya.

Diapit oleh dua puncak, yaitu Puncak Gunung Dempo yang lebarnya kurang lebih sekitar 5×5 meter dan paling tinggi ialah Puncak Gunung Api Dempo yang memiliki kawah dengan diameter sekitar 400 meter akibat letusan pada tahun 1900 sampai 1939. Hingga kini kawah gunung ini masih aktif, tahun 2006 sampai 2009 ini sering terjadi beberapa letusan kecil di kawahnya. Warna air kawah berubah-ubah tergantung musim, warna putih saat musim kemarau, dikala musim hujan berubah menjadi hijau, juga perpaduan antara warna-warna tersebut diwaktu peralihan musim.

Esok paginya saya dan Agus kembali menapaki jalur berbatu lepas hasil letusan gunung ini, untuk menikmati sajian ’menu’ istimewa di atas sana: Puncak, Kawah, pesona Gunung Api Dempo dan juga awan-awan yang mengiringinya. Tidak ada tiang triangulasi yang menunjukkan daratan tertinggi di sini. Hanya ada sebuah stasiun relay kecil milik Badan Vulkanologi untuk mengirim data mengenai kondisi gunung ini. Beberapa kali stasiun relay ini di rusak para peziarah puncak ini. Dari puncak gunung bertipe stratovolcano ini pemandangannya sangat indah, terlihat jajaran pegunungan Bukit Barisan, Kota Pagar Alam, Desa Tanjung Sakti, Kabupaten Manna (Propinsi Bengkulu). Ketika mengamati dinding kawah Gunung Api Dempo yang terjal, Agus berkata ”Dindingnya mirip dengan dinding kawah Gunung Gede.”

Menjelang tengah hari kami menyaksikan pertandingan futsal di Lembah Gunung Dempo yang di lakukan rombongan pendaki kemarin. “Sebenarnya kegiatan utama acara ini adalah operasi bersih (memunguti sampah di gunung), eksebisi futsal dijadikan penarik minat para peserta karena olah raga ini menjadi trend baru di Palembang dalam satu tahun terakhir” ucap Adi , salah seorang penggagas kegiatan ini, ketika saya berbincang dengannya.

Mentari pagi kembali datang, para pendaki pun mulai bersiap-siap dan berkemas untuk turun gunung. Mereka selingi dengan memunguti sampah pribadi maupun sampah dari para ‘Pencinta Alam’ yang mungkin karena kecintaannya, rela meninggalkan kenang-kenangan berupa aneka sampah di camping ground, shelter, maupun di jalur pendakian. Sampah terberat yang di bawa pendaki saat itu ialah 12 kilogram.

Lagi-lagi saya dan Agus menjadi sweeper, namun kali ini kami sengaja. Setelah lembah sepi dari pendaki lain, kami berjalan kearah utara dahulu sebelum turun gunung. Kemarin kami dilarang ke sana tanpa tahu apa alasan larangan itu. Membaca penunjuk arah yang ada di Top Dempo, tempat ini di namakan Hutan Larangan. Bagian dari lembah yang juga di tumbuhi pepohonan cantigi. Rasa penasaran kami terjawab, mungkin larangan itu salah satu bentuk kearifan guna menjaga kelestarian tempat ini dari penjamahan manusia. Buktinya tempat ini bersih dari sampah dan bekas-bekas orang berkemah.

Saat perjalanan turun saya bertanya tentang kesan Agus tentang gunung ini. “Tanjakannya mantap!” katanya sambil tersenyum penuh makna. Hujan gerimis dan kabut kembali mengiringi kami saat truk teh yang kami tumpangi melaju meninggalkan gundukan tanah besar di belakang kami, Gunung Dempo.

(sebagian dari tulisan ini di muat di Majalah National Geographic Traveler edisi Desember 2009)

Majalah National Geographic Traveler edisi Desember 2009

Majalah National Geographic Traveler edisi Desember 2009

***

Guru Muda, Mati Muda

Priyo Tumbang oleh Malaria

Teks dan Foto oleh Ruli Amrullah

Tik. Tombol komputer saya tekan. Ketika secangkir kopi tubruk saya aduk sambil menunggu komputer siap dioperasikan, telepon genggam yang saya gantung di lantai bawah berdering. Teman saya Agung berbicara di seberang sana. “Sudah dikabari oleh Koko?” ia bertanya. Belum. “Priyo meninggal!” serunya. “Inalillahi wa innalillahirojiun!”

Priyo Uji Sukmawan, seorang teman yang bekerja pada Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Jambi, telah dipanggil Sang Ilahi. Lelaki berusia 25 tahun tersebut telah memandu saya, Agung, dan beberapa teman lainnya ketika kami mengunjungi Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi. Ia meninggal karena malaria.

Modem internet saya aktifkan, profil Facebook milik almarhum Priyo saya buka. Mata saya tertuju ke foto profilnya yang sedang menatap lautan luas. Teringatlah bahwa saya masih punya utang foto kepadanya. Salah satu potretnya yang sedang mengajarkan baca, tulis, dan berhitung kepada anak-anak Orang Rimba saya ikut sertakan dalam beberapa lomba foto bertema pendidikan yang sedang digelar pada bulan itu–salah satunya diadakan oleh NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA. Lalu foto itu saya tandai (tag) ke akun Facebook Priyo untuk membayar utang saya. Ucapan dan doa saya sertakan di keterangan foto itu.

Walau foto itu belum “berjodoh” untuk menang, pengalaman dengan Priyo akan selalu saya kenang. Masih segar di dalam ingatan ketika kami bersama-sama menembus belantara yang mulai disentuh pembalakan liar itu, menanjak serta menuruni perbukitan taman nasional. Sambil berjalan, waktu itu ia menjelaskan banyak hal. Mulai dari pohon-pohon yang dikeramatkan oleh Suku Anak Dalam, arti simbol yang ditorehkan di batang pohon itu, adat dan budaya Suku Anak Dalam, sampai aktivitasnya di tengah hutan Pulau Sumaetra yang sekaligus tempatnya sebagai staf pendidikan alias guru bagi bocah-bocah di sana.

Pohon yang di sakralkan oleh Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi.

Pohon yang di sakralkan oleh Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi.

Di kala malam, dengan sabarnya Priyo menemani tiga anak; Besiar, Bedingen, dan Beteguh yang masih semangat untuk belajar. Kegiatan mereka hanya diterangi oleh cahaya lilin serta dibantu sinar lampu senter.

Di kelompok Suku Anak Dalam yang saya singgahi ini, cawat–celana khas kaum pria berupa kain panjang yang digulung lalu dililitkan di pinggang dan selangkangan–mulai ditinggalkan. Karena sering berjumpa dengan orang-orang dari luar, juga karena malu, mereka sudah mengenakan baju dan celana seperti yang dipakai di kota-kota. Priyo pun tak perlu memakai cawat untuk beradaptasi serta mendekati mereka. Ia juga menjadi dan-pur (komandan dapur), memasak makanan tim kami. Menu spesial sewaktu kami ada di belantara itu ialah sate dari daging rusa hasil buruan Orang Rimba.

Bagi saya, Priyo adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang telah mempersembahkan nyawanya di medan tempur ini, hutan rimba yang mulai dikepung oleh perkebunan kelapa sawit berskala besar.

Ces! Monitor komputer saya menjadi gelap, padahal bukan waktunya PLN memberikan jatah pemadaman di sini. Di luar, langit pun menangis semakin deras membasahi Bumi Sriwijaya yang sejak beberapa jam sebelumnya dipenuhi awan-awan hitam.

**

artikel ini pernah di publikasi di blog situs www.fotokita.net pada 11 January 2010,
link nya: http://fotokita.net/blog/2010/01/kisah-anda-priyo-tumbang-oleh-malaria/

***

Naik Gunung Dempo

Naik Gunung Dempo

Info Dan Tips Mendaki Gunung Dempo

Teks dan foto oleh: Ruli Amrullah

o Perizinan pendakian dengan cara melapor dan menyerahkan surat jalan atau daftar nama pendaki dan tim kepada petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Pak Anton di dekat pabrik PTPN VII juga di rumah ketua RT Kampung IV.

o Sumber air gunung ini terdapat pada sungai di bawah jembatan jika berada di daerah perkebunan the. Di Shelter 1 dan 2, terdapat di sebelah kanan jalur pendakian dengan menuruni sebuah tanjakan yang cukup curam, jalurnya tidak bercabang serta cukup jelas. Jika di Lembah Gunung Dempo, terdapat di tengah-tengahnya. Terlihat jelas. Bila aliran sungai ini di ikuti ke arah hilirnya, akan ditemukan aliran yang paling besar atau lebar, biasa di sebut Telaga Putri/ Pemandian Putri.

o Saat musim kemarau, sumber-sumber air di atas mengecil volumenya. Diwaktu musim pendakian, seringkali ditemukan sampah, sisa makanan dan terkadang kotoran manusia di sumber air ini, terutama di Telaga Putri/ Pemandian Putri.

o Periksa terlebih dahulu keadaan air sebelum menggunakannya atau lebih amannya anda mengambil langsung di bagian hulu atau tempat paling atas air ini.

o Gunung ini ramai di daki pada saat tahun baru, libur sekolah atau kuliah ( Bulan Januari, Februari, Juni dan Juli ), akhir bulan Desember (Tahun baruan), seusai hari raya Idul Fitri, Bulan Agustus (17 Agustus-an), juga biasanya di ziarahi penduduk lokal saat menjelang malam 1 Suro.

o Bawalah peralatan dan perlengkapan standar pendakian secukupnya.

o Logistik/ makanan serta kebutuhan yang lainnya, terakhir kali dapat di beli pada Pasar Kota Pagar Alam. Warung sedikit di temui di kaki gunung ini atau di Kampung IV, kalau pun ada biasanya tidak lengkap.

o Gunakanlah sepatu trekking yang baik, karena jalur menuju Puncak Dempo banyak terdapat akar-akar pohon. Sedangkan jalur dari Kampung IV ke Pintu Rimba dan jalur menuju Puncak Gunung Api Dempo adalah jalur yang didominasi batu-batu sisa letusan gunung ini.

o Anda dapat menginap gratis pada pondok yang di bangun di belakang rumah Pak Anton atau di area perkebunan teh pada tanah lapangnya asalkan tidak mengganggu aktivitas di kebun ini.

o Tempat yang biasa di jadikan camping ground oleh para pendaki ialah di kebun teh di bawah Pintu Rimba, Shelter 1 (maksimal 2 tenda berkapasitas 4 orang), Shelter 2 (maksimal sekitar 6 tenda berkapasitas 4 orang) tetapi medan disini miring dan banyak terdapat akar pohon yang keluar dari tanah. Serta tentunya di lembah Gunung Dempo, di sini banyak di temui tanah yang datar dan luas.

***

Kamera: Fuji FinePix S5700 S700

Anda ingin menikmati Sumatera Barat secara lengkap? Datanglah ketika acara Tour de Singkarak (TDS) berlangsung. Anda akan disuguhi keindahan alam, budaya, kuliner dan berbagai keunikan Sumatera Barat sambil menyaksikan olah raga yang ramah lingkungan; balap sepeda bertaraf internasional. Waw, ini suatu sajian yang spektakuler!.

Sejak kecil saya sudah kagum dengan provinsi ini. Dulu saya menyaksikannya di film yang bersetting disana; Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat yang diputar di satu-satunya televisi yang ada saat itu. Bona, panggilan akrab Hasan Tribuana cukup lama bermukim di Kota Padang untuk mengambil gelar strata satunya. Selain kuliah ia juga aktif dalam dunia fotografi. Salah satu hobi saya yang akhirnya mempertemukan kami di Kota Palembang, tempat kelahiran kami berdua. Saya menyetujui ajakan Bona untuk bertandang ke Sumatera Barat saat TDS 2010, 1 – 6 Juni 2010 . Karena selain lomba balap sepeda, pada event ini diadakan juga kompetisi fotografi. Disana kami bergabung dengan teman-teman dari komunitas fotografi The Patiakers dimana Bona merupakan salah satu pendirinya. Selain berburu (hunting) foto bersama, disana saya juga mendapatkan tumpangan kendaraan saat memotret, rumah untuk bermalam dan masih banyak lagi. Salah satu kebersamaan serta keramahan orang Indonesia yang masih bisa dirasakan di era globalisasi saat ini walaupun saya baru pertama kali berjumpa dengan mereka.

Babak 1: Padang Team Time Trial

Bona bercerita mengenang gedung-gedung yang telah hancur akibat gempa di Padang tahun 2009, beberapa bulan setelah ia meninggalkan kota ini untuk pulang ke kampung halaman di Palembang. Tak lama setelah kami memarkirkan sepeda motor, hujan turun dengan derasnya sebelum upacara pembukaan akan dimulai. Para penonton, tamu undangan, peserta dan panitia acara berlarian menuju tempat berteduh yang ada di Taman Budaya. Walau sudah menunggu cukup lama, hujan masih juga belum reda. Akhirnya upacara pembukaan dilangsungkan diiringi guyuran air dari langit. Penari piring tetap ceria dengan gerakan lincahnya diatas lantai yang basah. Remaja yang mengenakan pakaian adat Sumatera Barat mengiringi disekitar penari. Beduk ditabuh oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, juga Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Malarangeng, tanda dimulainya Tour de Singkarak 2010.

Para pembalap terdiri atas 22 tim yang mewakili 16 negara melakukan Team Time Trail sepanjang 15.8 kilometer mengelilingi banyak ruas jalan di Kota Padang. Dengan titik start dan finish; Pantai Padang. Beratapkan payung, warga antusias menyaksikan rangkaian acara, anak-anak juga tetap gembira walau rambut dan pakaiannya basah. Beberapa pembalap jatuh terpeleset dari garis start karena lantai yang licin oleh air hujan. Menjelang sore para atlet telah memasuki garis finish. Acara pun ditutup dengan pengumuman pemenang tahap pertama ini dan pembagian hadiah. Saya bergabung dengan teman-teman yang sedang makan sambil mengobrol diwarung yang letaknya disamping Pantai Padang. Perbincangan semakin meriah ketika kami pindah kewarung sebelah, tempat Makarios Sukoco seorang fotografer profesional yang juga salah satu juri lomba foto Tour de Singkarak 2010 sedang bersantai. Hujan masih datang silih berganti hingga malam hari, sesaat hujan kemudian reda kembali. Badanku akhirnya menggigil kedinginan tanda masuk angin. Getaran ditubuh ini semakin menjadi kerena tambahan ’bonus’ hembusan angin dari Samudera Hindia yang berbatasan langsung dengan pantai ini.

Babak 2: Padang – Pariaman – Muko-muko

Keesokan harinya, dirumah Uda (panggilan kakak dalam bahasa Padang) Sonnie yang kami tumpangi, rencana untuk memotret tahap kedua balap sepeda di Kota Pariaman kami batalkan. Rupanya Bona juga tidak enak badan akibat keadaan kemarin. Pentas Tabuik terlewatkan, tapi ini pilihan yang tepat dari pada kami mengambil resiko dari mengendarai sepeda motor ketika tubuh tidak fit demi mengabadikan moment itu.

Babak 3: Muko-muko – Bukit Tinggi

Tahap tiga Tour de Singkarak 2010 dimulai dari Mukomuko dan diakhiri di ikon wisata Kota Bukit Tinggi; Jam Gadang. Para atlet melewati Danau Maninjau juga menempuh tanjakan curam penuh kelokan di Kelok Dua Puluh Dua dan Kelok Empat Puluh Empat. Diteras rumah Uda Ar, malam hari sebelumnya teman-teman Patiakers rapat bersama membahas rencana memotret tahapan balap ini. Komunitas Fotografi dari Kota Payakumbuh; Payakumbuh Shutter juga bergabung. Rombongan hunting foto dibagi menjadi dua. Satu memotret ke Kelok Empat Puluh Empat, yang lainnya ke Jam Gadang, Kota Bukit Tinggi yang merupakan garis finishnya. Saya memilih bergabung dengan kelompok kedua.

Titik finish di Jam Gadang sudah dipenuhi oleh banyak orang pagi itu. Karena para pembalap masih cukup lama tiba disini dan perut kami belum diisi, kami memutuskan makan pagi diwarung yang ada di dalam Pasar Atas Pasar Bawah. Saya tertantang untuk mencicipi ampiang dadiah. Ampiang ialah emping yang terbuat dari beras ketan yang telah dipipihkan sedangkan dadiah adalah perahan susu kerbau yang dimasukkan kedalam bambu hijau yang masih segar lalu ditutup dengan daun pisang yang selanjutnya didiamkan selama satu atau dua hari hingga menjadi gumpalan. Warnanya putih seperti krim tetapi lebih padat. Disajikan dengan tambahan santan dan cairan gula merah. Sewaktu saya menyantapnya; ”Rasanya sedikit asam tapi gurih. Onde mande, rancak bana!”.

Banyak penonton berteriak histeris saat para peserta balap memasuki garis akhir lomba tahap ini. Atlet-atlet beristirahat, beberapa diantaranya diberikan perawatan ringan oleh petugas kesehatan karena terjatuh dilintasan. Warga asyik melihat sepeda para pembalap yang tengah terparkir. Tak lama berselang panitia mengumumkan jawara dihari ketiga ini. Tari payung kreasi moderen yang berkoloborasi dengan tarian tradisional khas Sumatera Barat menutup acara. Penonton pun berkerumun mengelilingi atraksi kesenian yang diiringi pukulan beduk oleh sekelompok anak-anak. Kami, para pemburu foto acara ini juga menyempatkan diri berfoto bersama dipanggung acara dengan latar belakang Jam Gadang sebelum membubarkan diri ketika matahari bersinar dengan teriknya.

Babak 4: Padang Panjang – Sawah Lunto

Malam hari setibanya di Padang Panjang, cukup lama kami terkurung didalam mobil karena hujan deras mengguyur diluar sana. Begitu pun saat kaki melangkah keluar mobil, rintikan air masih saja turun di Minang Fantasi (Mifan) WaterPark tempat kami akan menyaksikan pertunjukan budaya dan kesenian. Bukan hanya warga negara asing yang menjadi peserta juga panitia Tour de Singkarak 2010 yang kagum pada suguhan Tari Piring diatas panggung. Saya juga bersemangat menyaksikannya, payung yang ada didalam tas saya keluarkan agar hujan tidak menghalangi saya untuk maju mendekat kepanggung. Pentas Tari Piring ini begitu lengkap dibandingkan dengan yang saya saksikan diacara pernikahan beradat Sumatera Barat yang berlangsung di Palembang. Beberapa penonton merinding ketika kaki-kaki para penari menginjak tumpukan beling lalu melompat untuk mendarat dipecahan botol dan piring itu.

Babak keempat Tour de Singkarak 2010 dengan rute Padang Panjang menuju ke Sawah Lunto sepanjang 88.2 kilometer saya abadikan dengan kamera saya dari atas jembatan kereta api yang ada di dekat Danau Singkarak. Cukup lama saya menunggu jalanan dibawah saya dilalui para pembalap. Tetapi hanya beberapa detik saja mereka melibas jalur aspal yang dibeberapa bagian jalan ada lobang kecil. Sedikit atlet yang berada di bagian depan atau belakang rombongan, tapi di bagian tengahnya bagaikan sekumpulan lebah yang terbang beriringan. “Wusss….!” Begitu kira-kira bunyi tunggangan yang mereka gowes secara maksimal secepat yang mereka mampu diajang resmi dari International Cycling Union yang berhadiah total uang sebesar sekitar US $60.000 dan memiliki rating tinggi: 2,2 poin.

Babak 5: Sawah Lunto – Batu Sangkar

Saya beserta teman-teman dari The Patiakers menggunakan dua mobil dan beberapa diantaranya bersepeda motor. Kembali kami melewati jalur perbukitan yang menjadi kontur Sumatera Barat, kekaguman pada alamnya kembali hadir dalam benak ku. Penonton telah memenuhi jalan diluar pagar Istana Baso Pagaruyung. Begitu juga dengan para fotografer. Jika di Jam Gadang, Kota Bukit Tinggi ada fotografer yang memotret dari atap sebuah toko, disini ada yang memanjat pohon demi mendapatkan sudut pandang yang menarik.

Seorang jurnalis asing memakai sarung sebelum memasuki Istana Baso Pagaruyung

Para pembalap yang baru saja menjajal rute berjarak 102,4 kilometer disambut dengan suaraaneka tetabuhan digaris finish ini. Seperti biasa, acara selanjutnya ialah pengumuman pemenang etape ini lalu dihibur dengan berbagai tarian juga atraksi kesenian khas provinsi Sumatera Barat. Tapi ada satu acara yang berbeda dibanding dengan beberapa tempat yang telah dilalui beberapa hari sebelumnya. Acara itu adalah makan siang bersama di dalam Istana Baso Pagaruyung. Sebelum memasuki istana yang masih dalam tahap renovasi akibat kebakaran, para pembalap yang masih menggunakan kostum balap berupa celana pendek diharuskan memakai sarung. Lucu juga melihat atlet dari luar negeri yang dinegaranya tidak memiliki budaya memakai sarung. Wajahnya tampak cukup bingung lalu diselingi dengan senyuman saat kain itu dililitkan oleh panitia yang bertugas di bawah tangga pintu masuk istana.

Makan siang di dalam istana

Hidangan khas Sumatera Barat yang telah mendunia menjadi pengganti energi yang telah mereka gunakan selama sekitar tiga jam bersepeda dari kota Sawah Lunto menuju tempat ini. Warga yang berdatangan ke halaman istana banyak yang meminta berfoto bersama pembalap dari manca negara dengan kamera saku atau pun kamera ditelepon genggamnya. Saya mengira kami akan langsung pulang setelah acara disini usai. Tetapi saya mendapatkan sebuah kejutan; ”Ada acara Pacu Jawi, kita akan memotretnya.” tutur Bona. Pacu Jawi atau balap sapi memang menarik dan berbeda dengan karapan sapi di Pulau Madura yang berlokasi ditanah kering. Disini sawah berlumpur dijadikan arena adu cepat oleh para joki yang mengendalikan lari jawi di depannya diiringi alunan suara Talempong yang dimainkan oleh sekelompok warga tak jauh dari arena pacuan. Kami beberapa kali lari menghindar saat sapi bergerak mendekat ke posisi kami memotret yang berhadapan langsung dengan rute Pacu Jawi. Disesi kelima tur balap sepeda inilah saya merasa paling puas, karena begitu banyak pesona Sumatera Barat yang saya dapatkan.

Warga berfoto bersama pembalap TDS

Babak 6: Bukit Tinggi – Solok

Kami menginap dirumah Ervan Nanggalo yang posisinya tak jauh dari salah satu sisi danau Singkarak di daerah Ombilin. Warga disini memanfaatkan airnya untuk berbagai keperluan salah satunya untuk mandi. Begitupun saya dan beberapa rekan lainnya, kami berendam sambil sesekali bercanda ditemani oleh ikan-ikan bilih yang sedang mencari makan dipinggiran danau diantara sampah plastik yang tergenang. Mystacoleuseus Padangensis adalah nama latin dari ikan bilih yang memiliki bentuk badan yang lonjong dan pipih, ukurannya tak begitu besar dibanding ikan teri. Menu istimewa jamuan makan di rumah Ervan pun diisi oleh ikan ini, ada yang digoreng ada juga berupa gulai berkuah, semuanya tetap terasa gurih dan lezat. Ikan bilih yang telah digoreng atau diasapi banyak dijual di pasar Ombilin.

Dihari terakhir Tour de Singkarak 2010 saya memutuskan untuk menumpang sepeda motor yang dikendarai oleh Pulsar Nebula pada pagi itu. Selang beberapa menit kami melaju, sebuah lokasi menarik minat kami untuk berhenti dan menjadikannya sebagai tempat memotret. Para pembalap masih cukup lama lewat disini. Karena itu saya dan Bula bergabung bersama Ervan serta Uda Nofrin untuk menyantap mie instan dikedai yang letaknya persis dipinggir danau Singkarak. Event ini cukup meningkatkan pendapatan para pedagang yang tempat usahanya bersinggungan dengan rute balapan.

Penjual oleh-oleh khas Sumatera Barat

Memotret dilokasi ini memang pas. Danau Singkarak yang dipagari perbukitan menjadi latar belakang dari jalan aspal yang akan dilalui para pembalap. Ditambah lagi ada kereta api yang sengaja diparkir diatas relnya disini. Sebab itulah banyak fotografer yang bersiaga mengabadikan momentum ini dengan memilih sudut pandang yang masing-masing mereka jagokan. Bahkan ada beberapa orang yang menaiki bukit dibelakang kami agar mendapat foto yang berbeda dengan yang lainnya. Suara sirine dari kendaraan pengawal sudah terdengar, tanda bahwa sebentar lagi pembalap-pembalap itu akan mengisi bingkai didalam kamera yang telah siap kami operasikan. Seperti yang sudah-sudah, hanya beberapa detik saja mereka melewati jalan yang ada di hadapan kami, sedikit diantaranya yang tertinggal di belakang. Tiba-tiba seorang atlet menghentikan laju tunggangannya dihadapan saya, lalu diikuti oleh sebuah mobil panitia lomba. Oh, ternyata ia mengganti ban depan sepedanya.

Ganti ban depan sepeda saat balapan berlangsung

Kembali saya duduk di jok sepeda motor yang di kemudikan oleh Bula. Kami bergerak menuju lokasi perburuan foto teman-teman The Patiakers lainnya didepan salah satunya di Tiang Tujuh. Tapi mereka sudah tidak ada lagi disana. Setelah berkeliling kami memutuskan untuk berhenti dan memotret di Saniangbaka. Bentang alam disini sungguh menawan, hamparan sawah dan pepohonan menjadi latar depan dari keanggunan danau Singkarak beserta perbukitannya. Ada beberapa fotografer yang memotret disekitar kami, panasnya sinar mentari siang ini bukan masalah. Detik-detik menegangkan berburu moment kumpulan pembalap yang melintas dihadapan kami kembali terulang. Para atlet itu menguras tenaga untuk mencapai titik finish setelah bersepeda dari kota Bukit Tinggi lalu mengelilingi danau Singkarak ditahap akhir Tour de Singkarak 2010 ini. Tak lama berselang, Bula mengajak saya ke dermaga danau Singkarak untuk menyaksikan acara penutupan TDS 2010 juga bergabung dengan rekan-rekan The Patiakers yang telah tiba lebih dahulu. Warga ramai berdatangan, ada yang berfoto bersama para atlet, ada juga yang mengamati sepeda balap yang baru saja digunakan sambil sesekali menyentuh dengan tangannya. Lagu Bareh Solok didendangkan, para penari lemah gemulai memamerkan keterampilannya mengolah gerak yang dipadu dengan megahnya pakaian adat Sumatera Barat yang dikenakan. Setelah kata sambutan dari panitia dan para pejabat, pengumuman yang dinanti-nanti mulai dibacakan. Tim dari Iran yang menjuarai pada beberapa etape sebelumnya kembali berjaya dan dinobatkan sebagai pemenang TDS 2010 yang memiliki total jarak tempuh 551,7 kilometer selama enam tahapan.

Suasana saat pengumuman pemenang dan pembagian hadiah

***

Pesona Kawah Hijau Gunung Api Dempo

Teks dan foto oleh: Ruli Amrullah

“Kawahnya berwarna hijau!” sebuah kabar baik saya dapatkan dari pendaki yang baru saja turun Gunung Dempo saat kami berbincang di pondok pendaki milik Pak Anton. Hal ini dapat mengobati rasa pusing dan pegal-pegal karena perjalanan darat selama tujuh belas jam dari kota Jakarta menuju kota Palembang, kemudian di sambung ke kota Pagar Alam selama tujuh jam. Ini akan menjadi kali yang kedua bagi saya untuk menikmati kawah gunung saat warnanya menjadi hijau. Padahal dua bulan yang lalu saya baru saja mendakinya, tetapi kawah berwarna abu-abu. Banyak pendaki yang telah sering naik gunung ini hanya mendapati beberapa kali saja kawah hijaunya. Aktivitas vulkanik di dalam Gunung Api Dempo mempengaruhi warna kawahnya. Kadang berwarna hijau, biru, abu-abu atau gradasi dari warna-warna itu saat akan berubah. Teman saya Adi ‘Malest’ Ramdani pernah menikmati pergantian warnanya dari puncak selama tiga puluh menit. “Seperti susu yang di aduk ke dalam kopi.” ujarnya. Dulu saat pertama kali itu saya belum memiliki kamera dan sialnya, kamera teman saya rusak karena terkena air hujan. Sehingga pendakian saat itu bagai dongeng karena tidak ada bukti berupa foto. Akan tetapi hujan yang sering turun beberapa hari belakangan ini menjadi kabar buruknya. Sebab jalur akan menjadi licin dan di aliri air layaknya air terjun kecil.

Jam tujuh seusai makan pagi bersama Tim Ekspedisi Srikandi Nusantara di kantin pabrik PTPN VII, mobil truk sudah tiba untuk mengangkut kami menuju Kampung IV. Berbagi tempat dengan ibu-ibu pemetik daun teh di dalam bak kayu mobil ini kami menikmati pemandangan sambil berbincang-bincang. Saya baru tahu kalau ada warga lokal yang bekerja sebagai pemetik teh, karena selama ini yang saya temui adalah orang-orang Jawa yang secara turun temurun bekerja di perkebunan ini. Medan menanjak sudah menanti di atas sana, secara bersama-sama kami melakukan senam pemanasan terlebih dahulu. Pendakian ini merupakan latihan sebelum tim melakukan pendakian di gunung-gunung lain dari Sabang sampai Merauke. Tiba di Shelter 1 menjelang jam dua belas siang, kami rehat untuk makan siang dan sholat. Bersama tiga orang teman saya turun ke sebelah kanan Shelter 1 untuk mengambil air minum. Target menginap di lembah Gunung Dempo pada malam pertama pendakian tak tercapai. Sebagian besar anggota tim mencapai Shelter 2 pada jam empat sore. Hujan cukup menghambat pergerakan kami, benar saja dugaan saya jika hujan akan turun sekitar jam dua siang seperti hari-hari sebelumnya. Sudah sering saya mendengar cerita-cerita mistik tentang berbagai kejadian di Shelter 2. Alhamdulillah, semua berjalan lancar saat kami menginap di lokasi yang memiliki ketinggian 2.640 meter di atas permukaan laut (dpl) ini.

Bertepatan dengan hari Kartini 21 April 2012 kami sampai di TOP Dempo, satu dari dua puncak gunung ini. Usai berfoto dan menyantap makanan ringan sebagai tanda perayaan pencapaian puncak, kami turun ke lembah guna mendirikan tenda tempat peraduan malam kedua pendakian. Para pendaki di sini menyebut lembah sebagai Pelataran. Dengan sungai kecil di tengahnya, Pelataran berada di antara dua puncak; TOP Dempo dan puncak Gunung Api Dempo. Hujan kembali turun, kali ini lebih deras dari hari sebelumnya. Rencana summit attack ke puncak Gunung Api Dempo sore itu pun di batalkan. Beberapa kali saya terbangun saat menjelang pagi, ternyata gerimis masih setia membasahi tenda. Matahari bersinar terang, hujan pun mereda. Tim mulai bergerak menapaki tanjakan batu terjal menuju puncak Gunung Api Dempo, titik tertinggi gunung ini dan di Provinsi Sumatera Selatan. Jalur menuju puncakan banyak yang bercabang di bagian awalnya, sering kali pendaki tersesat di sini karena semua tampak hampir sama. Memilih jalur yang tampak jelas atau ada bekas tanda baru di lewati biasanya membimbing kita ke jalan yang sebenarnya. Ketika hendak turun dari puncakan, saya sering mengambil orientasi jalur yang lurus dengan tiang bendera Ekspedisi Bukit Barisan 2011 di lembah. Puncakan Gunung Api Dempo di penuhi pohon Cantigi yang oleh warga lokal di sebut sebagai Kayu Panjang Umur (KPU) karena tumbuhan ini tetap kuat dan utuh walau telah lama di simpan biasanya sebagai hiasan juga ‘oleh-oleh’ dari pendakian gunung ini layaknya si bunga abadi; edelweis.

Waktu terbaik untuk naik ke puncak ialah ketika pagi hari. Biasanya cuaca cerah, kabut belum turun menutup kawah dan seluruh bagian gunung ini. Sebagai bonus jika kita beruntung, akan terlihat Bukit Serelo atau juga di sebut Bukit Jempol di Kabupaten Lahat, hamparan Kota Pagar Alam, jajaran Bukit Barisan juga wilayah Provinsi Bengkulu terlihat dari puncak. Kamera kita akan sibuk merekam bingkai-bingkai indah lanskap di hadapannya. Begitu juga dengan teman-teman seperjalanan saya, silih berganti mereka berpose dengan latar belakang kawah yang memiliki diameter 3.000 meter. Meski demikian kita harus memperhatikan posisi berdiri, karena di kanan dan kiri terdapat jurang terjal yang siap menyambut kita jika tidak berhati-hati dalam melangkah. Saya beberapa kali terdorong oleh angin yang cukup kuat, untunglah saya berada jauh dari bibir jurang dan kawah. Telah ada sejumlah orang yang di kabarkan menjadi korban karena jatuh di kawah ini. Beberapa di antaranya di kaitkan dengan hal-hal mistik. Banyak bekas berbagai sesaji yang di tinggalkan di puncak. Ada berupa nasi, minuman, rokok, buah jeruk nipis dan hio atau dupa. Sebagian besar di letakkan dalam batu-batu gunung yang tersusun melingkar. Saat mendekati tanggal 1 Suro pada sistem kalender Jawa, banyak dukun, peziarah dan warga lokal mendaki puncak ini guna melakukan sejumlah ritual. Banyak orang di buat geli dengan tingkah laku para peziarah yang menggunakan busana serba hitam ini. Misalnya mereka berbicara sendiri seolah tengah berbincang dengan mahluk lain di hadapannya.

Awal bulan Februari 2012 yang lalu saya, Sutrisman Dinah dan Gathot Noor Umam yang tergabung dalam Tim Jelajah Pasemah melakukan pendataan ketinggian di Gunung Dempo. Ternyata tinggi puncaknya yang selama ini tercatat 3.159 meter di atas permukaan laut (dpl) berbeda dengan yang tertera di layar Global Positioning Sistem (GPS). Alat navigasi itu menunjukkan angka 3.183 meter di atas permukaan laut sebagai daratan tertinggi di sini yang letaknya berdekatan dengan alat pendata aktivitas vulkanik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).Telepon genggam yang baru saya aktifkan berdering, nomor telepon Bang Rio tertera pada layar. Rupanya rekan-rekan di sekretariat di Jakarta menanti dan penasaran dengan kabar dari tim kami. Berita hangat atas meninggalnya Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Prof. Widjajono Partowidagdo, Ph.D saat mendaki Gunung Tambora (2.850 meter) di Pulau Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) membuat mereka khawatir di tambah komunikasi kami sejak tiga hari yang lalu terputus saat perangkat seluler saya matikan karena tidak ada sinyal di sepanjang jalur pendakian. Semua anggota tim tampak gembira dengan pendakian ini. Foto kawah hijau Gunung Api Dempo yang di unggah pada jejaring sosial setelah turun gunung mendapatkan berbagai apresiasi positif. Di anggap beruntung karena kawah berwarna hijau saat di sana, hingga komentar; Keren!, Mantab Gan! memenuhi halaman situs pertemanan tersebut.

Logistik

Penerbangan dari Kota Jakarta menuju kota Palembang juga sebaliknya ada setiap hari dan tiap beberapa jam. Angkutan darat ke kota Pagar Alam dari kota Palembang; PO. Telaga Biru Putra: 0711-7078110. PO. Telaga Biru Wisata (antar alamat/ travel): 0711-7060070, juga dari kota Jakarta dan kota Yogyakarta; PO. Telaga Indah Armada: 021-5544666. Menuju titik awal pendakian di Kampung IV atau Tugu Rimau (Cahaya Timur) kita bisa menumpang mobil truk PTPN VII, tarif Rp 50.000 – Rp 100.000 per tim atau rombongan, tergantung kesepakatan.

Penginapan: Hotel Darma Karya: 0730-621297. Villa Seganti Setungguan: 0730-621736.

Villa dan Hotel Wisata Gunung Gare: 0730-625057, Hotel Mirasa: 0730-621266.

Perizinan pendakian dengan cara melapor dan menyerahkan surat jalan atau daftar nama pendaki dan tim kepada petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Pak Anton di dekat pabrik PTPN VII juga di rumah ketua RT Kampung IV.

Lokasi berkemah dan sumber air: Shelter 1dan Shelter 2 jalur Kampung IV, lembah Gunung Dempo. Tidak terdapat sumber air jika melalui jalur Tugu Rimau (Cahaya Timur).

Bawalah peralatan standar pendakian, makanan, jas hujan (ponco, rain coat), payung, perlengkapan yang tahan air atau di bungkus menggunakan kantong plastik. Bawa barang sesuai kebutuhan dan sebaiknya jangan menggunakan tas besar karena banyak jalur yang di lalui sempit, menanjak, melewati pohon tumbang dan ranting juga batang pohon dapat membuat tas tersangkut.
***

Artikel ini di muat pada Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) edisi bulan Agustus 2012.

Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) Agustus 2012

Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) Agustus 2012

Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) Agustus 2012

Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) Agustus 2012

***

Main Futsal di Gunung Dempo

Teks dan foto oleh: Ruli Amrullah

Bermain futsal mungkin sudah biasa. Tapi, bagaimana jika di lakukan di atas gunung? Yang mengharuskan para pemainnya melakukan pendakian terlebih dahulu sebelum memainkannya? Ekstrim! Itu yang akan dikatakan banyak orang.

Kegiatan ini diadakan untuk mengisi liburan sekolah dan kuliah pada bulan juli 2007 lalu, dengan tema Mid Year Adventure. Diselenggarakan oleh Edelweis Adventure Service (EAS) Palembang dan disponsori oleh Edelweis Xtream Sport, toko perlengkapan kegiatan outdoor di Palembang, juga turut di dukung oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan dan PT. Perkebunan Nusantara VII (Persero).

Empat puluh tiga orang peserta baik yang berasal dari Palembang maupun kota dan kabupaten yang ada di Sumatera Selatan, juga di luar propinsi ini, di angkut menggunakan truk yang biasa memuat daun teh serta para pemetiknya, menuju starting poin di bawah pintu rimbo Gunung Dempo. Sebelumnya di lakukan upacara pembukaan di lapangan sekitar pabrik teh yang di pimpin oleh pejabat PTPN VII (Persero) juga dihadiri oleh  Pak Anton, seorang kakek yang dituakan oleh para pencinta alam di Sumatera Selatan yang tinggal di dekat Pabrik Teh PTPN VII (Persero) Pagar Alam. Pada pukul 11.30 WIB, Gunung Tertinggi di Bumi Sriwijaya ini masih saja di selimuti kabut, saat para peserta melakukan pendakian menuju lembah atau yang biasa disebut para pendaki lokal sebagai pelataran.

Pendakian di bagi menjadi beberapa kelompok untuk menghindari kepadatan di jalur nanti. Walaupun telah melakukan perjalanan darat selama 7 jam dari Palembang satu hari sebelumnya, mereka tetap semangat menapaki tanjakan demi tanjakan  yang mendominasi rute gunung tertinggi di Sumatera Selatan ini. Tim pendaki terakhir yang sampai di lembah pada jam 18.30 WIB, setelah melakukan perjalanan yang rata-rata ditempuh selama 6 jam menuju puncak Gunung Dempo, lalu turun dari situ selama 15 menit menuju pelataran.

Pertandingan futsal yang mengunakan sistem eksibisi ini dilakukan pada tanggal 7  Juli 2007. Di mulai pada jam 09.30 WIB, yang tidak diikuti oleh seluruh peserta, disebabkan beberapa peserta masih kelelahan setelah kemarin melakukan pendakian dan besok harus turun gunung untuk pulang. Acara ini juga diikuti oleh 8 orang wanita yang semuanya tidak mau ikut eksibisi futsal, cuma mau naik gunung, itu salah satu dari alasannya.

Empat tim yang terdiri dari 5 orang peserta dipilih secara acak, bertanding memperebutkan hadiah berupa uang tunai. Setiap sesi pertandingan di berikan waktu selama 5 menit, untuk mengumpulkan gol terbanyak pada gawang lawan. Mereka tetap tampil prima walaupun kemarin telah melakukan perjalanan panjang menuju lokasi perkemahan dan perlombaan futsal ini dengan membawa perlengkapan pribadi dan tim yang cukup berat dalam tas dan ransel masing-masing. Panitia juga tak mau kalah, mereka ikut bermain futsal melawan peserta yang lain pada pertengahan eksibisi, sebelum pertandingan final.

Siang harinya diadakan acara makan siang bersama. Selanjutnya panitia bagi-bagi doorprize untuk peserta yang dapat menjawab pertanyaan kuis dan berani menerima tantangan dalam suatu games. Menjelang sore, peserta dan panitia bertukar tanda tangan pada syal kegiatan yang di dapatkan sewaktu pendaftaran kegiatan ini. Spanduk kegiatan di jadikan objek foto bersama. Sesudah acara ini selesai, sekitar dua puluhan orang mendaki puncak Gunung Api Dempo untuk foto bersama lagi. Dari kejauhan terlihat para pendaki yang sedang berjalan  berupa titik-titik merah, karena menggunakan baju kaos kegiatan Xtream Futsal yang berwarna merah terang.

Lembah Gunung Dempo berada pada ketinggian 2998 meter di atas permukaan laut (dpl) dipilih sebagai tempat pertandingan eksibisi futsal karena memiliki banyak tanah datar yang luas, biasa di gunakan para pendakinya untuk mendirikan tenda. Diapit oleh dua puncak, yaitu Puncak Gunung Dempo yang lebarnya kurang lebih sekitar 5 kali 5 meter serta dipenuhi pepohonan dengan beberapa papan yang berisi tulisan yang menyatakan ini adalah puncak. Yang paling tinggi ialah Puncak Gunung  Api Dempo yang memiliki kawah dengan diameter sekitar 400 meter akibat letusan pada tahun 1900 sampai 1939. Hingga kini kawah gunung ini masih aktif, tahun 2006 dan 2007 terjadi beberapa letusan kecil di kawahnya. Warna air kawah berubah-ubah, tergantung musim, warna putih saat musim kemarau, dikala musim hujan berubah menjadi hijau, juga perpaduan antara warna-warna tersebut diwaktu peralihan musim.

Tiang trianggulasi tidak terdapat pada Puncak Gunung  Api Dempo ini. Tapi ada sebuah stasiun relay kecil milik Badan Vulkanologi untuk mengirim data mengenai kondisi gunung ini. Dari puncak gunung bertipe stratovolcano ini, pemandangannya sangat indah, terlihat jajaran pegunungan Bukit Barisan, Kota Pagar Alam, Desa Tanjung Sakti, Kabupaten Manna (Propinsi Bengkulu). Agus Mulyana, peserta asal Kota Bogor yang juga anggota Volunteer Gede Pangrango Operation (GPO), ketika mengamati dinding kawah Gunung  Api Dempo yang terjal, merasa mirip dengan dinding kawah Gunung  Gede (2958 mdpl) di Jawa Barat.

Ketika turun gunung, peserta diwajibkan melakukan Operasi Bersih (Opsih), memunguti sampah pribadi maupun sampah dari para ‘Pencinta Alam’ yang karena kecintaannya, rela meninggalkan beraneka sampah di camping ground, shelter, maupun di jalur pendakian. Rata-rata peserta membawa turun sampah seberat 5 kg saat ditimbang di pos bawah. Dengan menggunakan karung bekas beras ukuran 20 kg sumbangan dari para donatur pada  panitia, berbagai sampah hasil peradaban moderen manusia di bawa turun oleh peserta maupun panitia kegiatan. Seorang peserta yang berasal dari Kota Lubuk Linggau berhak membawa pulang satu unit tenda dome karena membawa turun sampah terberat di bandingkan dengan yang lain, yaitu seberat 12 kg.

    “Sebenarnya kegiatan utama acara ini adalah operasi bersih, eksebisi futsal dijadikan penarik minat para peserta karena olah raga ini menjadi trend baru di Palembang dalam satu tahun terakhir” ucap Adi Malest, owner Edelweis Xtream Sport yang beralamat di Jln. Ogan No.1067 Bukit Besar Palembang. Juga untuk meramaikan kegiatan petualangan alam bebas untuk umum di Sumatera Selatan selain kejuaraan panjat dinding serta acara rutin internal organisasi pegiat alam seperti DIKLAT (Pendidikan dan Pelatihan) anggota baru, MuSang (Musyawarah Anggota), MuBes (Musyawarah Besar) dan lain-lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s