Cerito Hal Pindang Patin

 

 

Oleh : Ruli Amrullah

 

Sungai Musi dibelah Jembatan Ampera di wilayah hulu dan hilir. Tak jauh di bawahnya merapat ke dermaga Pasar 16 Ilir Palembang, berjejer empat buah perahu bercat warna warni cerah. Kita dapat menggoyang lidah di dalam rumah makan terapung ini sambil digoyang gelombang Sungai Musi serta menikmari pemandangan sekitar Jembatan Ampera. Pada dinding pintu masuk semuanya sama, bertuliskan Pindang Pegagan. Pindang merupakan makanan berat favorit bagi warga Palembang. Pindang disini adalah masakan berkuah yang menggunakan banyak bumbu dan rempah dengan bahan utama aneka ikan, udang serta tulang atau daging sapi. Pindang patin yang paling laris di sebagian besar kedai pindang di Kota Palembang. Harganya yang relatif murah juga lembutnya daging ikan patin di temani sepiring nasi putih hangat, sambal mangga atau kemang dan aneka lalapan; daun kemangi, timun jadi pilihan. Makan daging ikan sudah menjadi keseharian warga Palembang. Hal ini dapat dilihat dari aneka makanan khasnya ialah aneka olahan berbahan ikan. Kontur wilayahnya yang merupakan dataran rendah dengan banyak sungai dan rawa yang penghuni di dalam air ialah aneka ikan, udang, kerang serta yang lainnya. Namun semakin hari banyak rawa yang beralih fungsi menjadi pemukiman dan toko. Warisan rumah panggung yang anti banjir berganti rumah beton permanen yang kerap kemasukan air saat musim hujan. Dulu rumah-rumah menghadap sungai sebagai jalan raya bagi perahu yang jadi alat transportasi utama. Namun kini, rumah dan toko menghadap jalan aspal atau semen tempat aneka kendaraan bermesin dan beroda yang berlalu dan melintas.

Empat macam pindang yang populer di Kota Palembang ini juga mewakili wilayah geografis dan suku dimana pindang ini berasal, yaitu: Pindang Palembang, Pindang Pegagan, Pindang Meranjat dan Pindang Musi Rawas. Semuanya memiliki cita rasa khas dan penggemarnya, sesuai dengan selera masing-masing individu. Mbok Sri yang berusia 48 tahun menjual Pindang Pegagan seperti tiga Rumah Makan terapung tetangganya walau ternyata ia sendiri bersuku dan berasal dari daerah Komering. “Yang laen tu uwong Pegagan galo, kalu ayuk (kakak perempuan) ni uwong Komering”. Kedai pindangnya dinamakan Rumah Makan Terapung Mbok Sri nama panggilannya sendiri. Di daerah Pegagan seorang ibu biasa dipanggil mbok. “Kalu jualan di perahu ni tahun 2002 la, sebelomnyo jualan di toko di bawah proyek (di bawah Jembatan Ampera) taon 1990an la, la lamo. Dulu kan kumuh dibawah proyek tu” ujar Mbok Sri sambil sesekali memainkan gawai berjenis tablet miliknya. Saat ini kawasan ilir di bawah Jembatan Ampera telah ditertibkan, beralih fungsi menjadi Taman Nusa Indah. “Duo taun sekali ganti kapal ni, la limo kali ganti kapal, buruk (rusak) di bawahnyo”.

Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) yang sering digunakan adalah patin ternak atau tambak. Karena harga yang murah serta stok melimpah juga mudah didapatkan di pasar. Tapi soal rasa, patin liar atau patin sungai lah juaranya. Ikan berkumis yang hidup liar disungai ini semakin hari makin sulit didapatkan. Ibu Ucha pemilik Rumah Makan Pindang Meranjat Ibu Ucha menuturkan bahwa dahulu kala ikan patin sungai mudah di dapatkan di dusun Meranjat. Namun kini semakin hari semakin sulit. “La sepuluh taunan ini la sulit, dulu tu sehari empat kali nganter di Pasar KM 5 ”. Telah 27 tahun ia meracik juga berniaga pindang dan panganan khas Provinsi Sumatera Selatan lainnya. “Masalah pertamonyo tu kareno putas, jadi iwak-iwak kecik anaknyo tu mati galo jugo” ucap Ibu Ucha menjelaskan alasan sulitnya kini mendapatkan ikan-ikan sungai karena banyak yang mati terkena racun putas yang di masukkan kedalam perairan di kampungnya;  Meranjat. Nafiko anak ibu Ucha pernah berebut ikan sungai dengan para pembeli lain yang juga sesama penjual pidang di kawasan Musi 2. Mereka mencegat perahu nelayan ikan sebelum sampai di tempat biasa berjualan ikan. “Dio (penjual ikan) netepken hargo sekendak dio, kan pasti dibeli” tutur Fiko panggilan akrabnya. Sudah sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia membantu sang bunda meracik dan berbisnis pindang. Sekarang harga ikan patin sungai mencapai Rp 90.000 / kilo gram. Sedangkan harga ikan patin ternak sekitar Rp 20.000 / kilo gram.

“Banyak yang biso beken pindang, tapi kalu cicipan (penyicip) kurang biso. Ibu ni memang cocok di rumah makan kareno biso nyicip. Bukan sombong bukan, kalu biso nyicip lemak (enaknya) makanan, uwong la bejualan makanan galo (semua), katek (tidak ada) yang nak (mau) jualan pakaian, jual sembako. Lidah ni anugerah dari Allah” ujar Ibu Ucha yang telah berumur 65 tahun ini. Karena harus menggunakan bahan yang segar, Ibu Ucha masih sering belanja bahan baku sendiri. Jam setengah enam pagi sudah ke pasar. Menenteng aneka barang belanjaan di kira dan kanan tangannya. Pernah karyawannya yang belanja ke pasar, namun bahan yang dibeli banyak yang busuk dan cacat. Paling sulit cari karyawan yang dapat diandalkan keluhnya. Sering mendidik karyawan yang kecakapannya masih nol, namun saat sudah bisa mereka pindah ke rumah makan pindang yang lain. Kabar yang cukup membuat saya terkejut, ternyata salah satu rumah makan pindang tenar yang lain telah membajak seorang karyawannya yang selama tiga tahun telah ia tulari ilmu meracik bumbu pindang serta aneka makanan lainnya. Dengan diiming-imingi gaji yang lebih tinggi, mendapatkan fasilitas sepeda motor dan emas, anak didiknya itu berpindah dapur dan majikan. Bumbu pindang tak ada aturan dan timbangan bakunya. Pada jaman dahulu kala sang nenek di kampung meracik pindang tidak menggunakan takaran serinci masa kini. Apa lagi bumbu masakan adalah buah dan sayur segar yang harus dicicip dahulu agar kita tahu jenis rasanya. Sembari di olah, sambil di icip-icip. Warisan leluhur berupa makanan ini bahannya sehat dan berkhasiat. Lalapan hijau dan bumbu rempah herbal juga ramah lingkungan. Suatu kearifal lokal yang bisa di tanam di pekarangan rumah menjadi apotik hidup.

“Bedanyo pindang pegagan ni banyak pake calok (terasi). Kalu pindang pegagan ni pake bumbu sereh, calok, asam jawo, bawang bae (saja), tapi kalu ibu ni pake galo. Enjuk (kasih) sereh, laos, kito kompleti galo dalem pindang tu jadi mantap nian. Meloki (mengikuti) selera pasar.” Tutur Mbok Sri sambil sesekali melihat laman jejaring sosial di gawainya. Deddy Huang, seorang petualang rasa dari Palembang berujar: “Sampai sekarang masih bingung untuk bedain mano pindang Musi Rawas, Pegagan, Palembang. Jadi narik pemikiran karena sudah terjadi percampuran rasa dan disesuaikan sama lidah”. Sepasang wisatawan dari Jerman yang pernah menyantap pindang Mbok Sri berkata bahwa rasanya mirip Tomyam, makanan terkenal dari negri Thailand. Pembeli pindang Mbok Sri bermacam asalnya, banyak warga local juga masyarakat kabupaten tetangga Kota Palembang juga tamu internasional. Dari rakyat jelata hingga pejabat negara. “Pak Edi dengan Pak Harnojoyo pernah makan disini”. Kisahnya pada saya menyebutkan dua nama Walikota Palembang. Pembawa acara kuliner Bondan Winarno pun sudah meliput hidangan Mbok Sri, ia menyuruh saya membuka video liputan itu di jejaring sosial pada gawainya. Sebab ia sering bingung cara menggunakannya. Bondan Winarno dengan kata sakti maknyus dalam acaranya juga telah dua kali menyambangi Rumah Makan Pindang Meranjat Ibu Ucha. Tapi kini Ibu Ucha menolak semua rekaman acara kuliner di dapurnya, sebab sering menggangu kegiatan memasak beragam panganan. 70 % pelanggan Ibu Ucha beretnis Tionghoa. Ada yang datang dari Jakarta hanya untuk santap siang disini lalu terbang kembali ke ibu kota. Musisi Armand Maulana dan personil band Gigi sebelum manggung di Palembang makan dahulu disini, sebelum pulang makan lagi lalu membungkus makanan untuk di rumah. Sanak bu Ucha pun sudah mengajaknya untuk menjual pindang di luar negeri, misalnya di Singapura. Cita rasa pindang yang asam pedas cocok dilidah orang keturunan Tionghoa. Sebab banyak orang bersuku bangsa Cina, Arab dan India sudah lama bermukim di Palembang juga mempengaruhi makanan khas kota tua ini.

Ibu Ucha dan Nafiko sudah jarang hadir ke Rumah Makan Pindang Meranjat Ibu Ucha karena capek dan jenuh. Untuk mengelola, meracik dan mencicip masakan mereka percayakan pada sang keponakan Ibu Ucha. Sedangkan Mbok Sri masih belum tau siapa yang akan meneruskan usaha pindang ini. Kedua pemilik pindang ini memiliki kesamaan. Tak begitu peduli dengan persaingan dengan sesama pebisnis pindang. Sibuk dengan aktifitas harian dan berusaha menyuguhkan racikan pindang yang terbaik. “Semua sudah ada rezekinya masing-masing” petuan bijak Ibu Ucha pada ku. Jam di tangan menunjukan pukul lima sore. Awan hitam mulai menutupi kawasan Pasar 16 Ilir. Rintik hujan membasahi tirta Sungai Musi yang masih sering dipakai warga dan pedagang untuk kegiatan MCK (Mandi, Cuci, Kakus). Zat merkuri pun sudah terkandung pada sejumlah ikan disini.

 

 

           5 Daftar Kedai Pidang Terfavorit di Kota Palembang

 

Rumah Makan Pindang Meranjat Ibu Ucha

Banyak pepohonan yang menyejukkan, lahan parkir yang luas juga terdapat podok lesehan untuk bersantap sambil bersantai. Ramai saat jam makan siang. Hari jum’at libur. Buka dari jam 09.30 WIB sampai dengan jam 16.00 WIB.

Jl. Demang Lebar Daun No. 14 Palembang

(0711) 374201

 

Rumah Makan Pindang Musi Rawas

Tepat dipinggir jalan raya ia berada. Lahan parkir yang terbatas dan ada yang parkir di badan jalan. Sebaiknya anda datang sebelum jam makan siang atau santap malam. Sebab jika ramai, nomor antri digunakan untuk antisipasi saling serobot. Tapi itu semua terbayar dengan rasa masakannya. Rumah Makan ini banyak di rekomendasikan oleh pengguna situs Tripadvisor.

Jl. Angkatan 45 No.18 Lorok Pakjo Ilir Barat I Palembang

(0711) 370590. 0812 328 9582

rmpindangmusirawas@yahoo.com

 

Rumah Makan Musi Pindang Sekanak

Berlokasi di kawasan kota tua Pasar Sekanak yang ramai saat siang hari. Rumah Makan ini berupa bangunan semi permanen dengan dinding papan kayu berisi banyak meja dan kursi. Harganya relatif murah di kantong.

Jl. Depaten Baru No.241 Pasar Sekanak Palembang

0853-8133-9969. 0711-314980

 

Rumah Makan Terapung Mbok Sri

Saat ini perahu terapung Mbok Sri letaknya paling dekat dengan Jembatan Ampera. Ditemani angin dan suasana sungai, sambil mendengar suara kapal dan mesing perahu ketek yang menyeberang. Pindang ikan patin di temani sepiring nasi putih, sambal mangga atau kemang dan aneka lalapan hanya Rp 15.000 saja.

Dermaga Pasar 16 Ilir Palembang

0821 8377 0005. Facebook : RM Terapung Mbok Sri

 

Rumah Makan Pindang Sri Melayu

Selain ruang makan dengan banyak meja dan kursi terdapat juga gazebo / saung lesehan untuk bersantap. Sarana parker yang luas, banyak pepohonan dan kolam menjadi pilihan para pengusaha dan pejabat pemerintah menjamu tamunya mencicipi makanan khas Sumatera Selatan.

 

Jl. Demang Lebar Daun Palembang

(Samping Griya Agung / Istana Gubernur Sumatera Selatan)

0711 – 420468 / 0711 – 420690

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s