Black Trail di Pulau Weh (@BlacktrailersID)

Black Trail di Pulau Weh

Suasana Masjid Baiturrahman seusai sholat jum'at.

Suasana Masjid Baiturrahman seusai sholat jum’at.

Alhamdulillah. Puji syukur inilah yang terucap tatkala mengetahui bahwa saya salah seorang pemenang acara Black Trail ke Pulau Weh di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Rasa senang ini pun terpancar selama saya melakukan petualangan bersama empat pemenang lainnya yaitu Bayu Tegar Gumilang, Hans Kristian, Harry Jonathan Sianipar, Azzamta Zafrian Rohman dan sang bintang iklan L’Oreal Men Expert; Nicolas Saputra. Nico sudah sering kesini, sertifikat menyelam ia ambil di Pulau Weh. “Orang-orang disini cuek.” Katanya, sehingga privasinya sebagai seorang artis tidak terganggu. Setelah melakukan perjalanan udara dari kota Jakarta menuju kota Banda Aceh kami santap siang di Rumah Makan Pak Yan dengan aneka hidangan khas Aceh terutama menu spesial Ayam Tangkap. Dinamakan demikian karena saat akan dimasak ayam kampung yang dibiarkan hidup diluar kandang ditangkap dengan tangan kosong hingga terjadi kejar-mengejar. Ini saya saksikan pada acara kuliner disalah satu stasiun televisi swasta nasional beberapa bulan yang lalu. Gurih terasa saat mengunyah ayam goreng disebabkan ayam yang baru dipotong langsung dicelupkan keminyak sawit pada penggorengan tanpa direbus terlebih dahulu atau istilahnya diungkep.

Satu sudut Kota Sabang

Satu sudut Kota Sabang

Waktu telah mendekati jam dua belas siang, hari itu Jum’at 30 Agustus 2013 kami beranjak menuju Masjid Baiturrahman untuk menunaikan sholat jum’at. Salah satu ikon Provinsi Nangroe Aceh Darussalam yang mengingatkan memori masa kacil saya, karena dahulu ketika ayah saya mendapat tugas dari kantor disini ia berfoto dengan latar belakang masjid ini. Tentunya saya dan teman-teman blacktrail’ers juga berfoto disini seusai sholat. Peninggalan bencana Tsunami banyak terdapat di kota Banda Aceh. Kami mengunjungi kapal PLTD Apung 1 yang terdampar jauh ketengah kota saat gelombang maut itu mengamuk. Sayangnya banyak aksi vandalisme berupa tulisan pada badan kapal ini, juga dibeberapa objek wisata yang kami kunjungi berikutnya. Menuju Pulau Weh, kami harus menyeberang menggunakan kapal cepat KMP Express Bahari 3 dari pelabuhan Ulee Lheue ke pelabuhan Balohan. Saya dan Azzam merasa menjadi tamu istimewa karena selama di Pulau Weh kami menginap di The Pade Resort. Kami berdua yang suka mendaki gunung dan biasa bermalam ditenda, pada perjalanan ini berubah seratus delapan puluh derajat jadi tidur dikasur empuk resort dengan beragam fasilitasnya.

Angka kedalaman dilambung kapal

Angka kedalaman dilambung kapal

Bermain ayunan di Pantai Gapang

Bermain ayunan di Pantai Gapang

Hari ini kami berburu matahari terbit. Dalam gelap fajar iringan mobil kami menuju Anoi Itam. Beberapa benteng dan bungker peninggalan penjajah Jepang tersebar disini. Sang surya muncul dari dasar Samudera Hindia diseberang sana. Kami pun sibuk merekam dengan kamera masing-masing. Mulai dari untuk dokumentasi perjalanan hingga yang paling sering berfoto untuk keperluan pribadi alias foto narsis. Setelah kembali ke resort kami melintasi laut dengan tujuan Pulau Breueh. Mercusuar Williems Torren III jadi agenda kunjungan kami hari ini. Tapi terlebih dahulu kami harus naik turun bukit untuk mencapainya. Dilanjutkan dengan menaiki anak tangga besi yang beberapa sudah patah. Bonus dari lelah hari ini ialah pemandangan indah dari atas mercusuar. Panglima Laut ikut mengantar kami kesini. Tadi malam ia banyak berkisah tentang hidupnya, walau saya sudah mengantuk tetapi obrolannya membuat mata tetap terjaga.

Dihari ketiga petualangan ini agendanya menyelam dan snorkeling. Gerimis yang dari subuh membasahi bumi membuat suhu laut cukup dingin. Hampir satu jam saya snorkeling di pantai Pulau Rubiah, tubuh kedinginan dan saya naik kedaratan bergabung dengan teman-teman yang sedang ngopi diwarung. Taman Laut Rubiah sungguh indah, dipinggir pantainya yang jernih saja aneka tumbuhan dan satwa laut mudah dijumpai. Kita tetap harus waspada karena disini banyak hewan bulu babi yang siap menyengat apabila ia merasa terganggu. Saya merasa menyesal karena tidak memiliki sertifikat menyelam. Eksplorasi tempat ini terasa kurang maksimal. Saya dan beberapa teman blacktrail’ers hanya bisa malakukan snorkeling dipinggir pantai saja.

Akhirnya kami mencapai wilayah paling barat Indonesia; Tugu Nol Kilometer. Banyak ekspedisi mengelilingi Nusantara bermula dari sini. Petualangan Black Trail ke Pulau Weh terasa lengkap. Mulai dari bermain dibawah laut hingga menikmati alam dari atas permukaan laut. Perjalanan terakhir di Pulau Weh ditutup dengan melakukan trekking menuju air terjun Pria Laot. Aceh yang lama didera konflik berdarah tidak terlalu berdampak terhadap pariwisata di Pulau Weh. “Karena disini banyak pangkalan TNI.” Ucap Abdi, lajang berusia tiga puluh tahun yang berasal dari kota Bukit Tinggi sambil mengemudi mobil mengantar kami. Makanan khas Aceh kami nikmati sebelum pulang ke kota Jakarta. Dari kopi Aceh yang telah mendunia, hingga Mie Aceh yang banyak dijual diberbagai kota besar Indonesia. Saya memesan jus pinang, minuman yang pertama kali saya jumpai disini rasanya unik. Rasa sepat pinang ditutupi rasa manis yang berpadu dengan rempah lainnya dan yang cukup lekat dilidah campuran jintan hitam. Banyak hal istimewa saya jumpai di Provinsi yang sewaktu sekolah dasar dulu saya hapal sebagai Daerah Istimewa Aceh.

Suasana di Air Terjun Pria Laot

Suasana di air terjun Pria Laot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s