Ruli Amrullah

Pesona Kawah Hijau Gunung Api Dempo

In Adventure, Artikel, Gunung Dempo, Sumatera Selatan on 2012/08/21 at 11:45 pm

Teks dan foto oleh: Ruli Amrullah

“Kawahnya berwarna hijau!” sebuah kabar baik saya dapatkan dari pendaki yang baru saja turun Gunung Dempo saat kami berbincang di pondok pendaki milik Pak Anton. Hal ini dapat mengobati rasa pusing dan pegal-pegal karena perjalanan darat selama tujuh belas jam dari kota Jakarta menuju kota Palembang, kemudian di sambung ke kota Pagar Alam selama tujuh jam. Ini akan menjadi kali yang kedua bagi saya untuk menikmati kawah gunung saat warnanya menjadi hijau. Padahal dua bulan yang lalu saya baru saja mendakinya, tetapi kawah berwarna abu-abu. Banyak pendaki yang telah sering naik gunung ini hanya mendapati beberapa kali saja kawah hijaunya. Aktivitas vulkanik di dalam Gunung Api Dempo mempengaruhi warna kawahnya. Kadang berwarna hijau, biru, abu-abu atau gradasi dari warna-warna itu saat akan berubah. Teman saya Adi ‘Malest’ Ramdani pernah menikmati pergantian warnanya dari puncak selama tiga puluh menit. “Seperti susu yang di aduk ke dalam kopi.” ujarnya. Dulu saat pertama kali itu saya belum memiliki kamera dan sialnya, kamera teman saya rusak karena terkena air hujan. Sehingga pendakian saat itu bagai dongeng karena tidak ada bukti berupa foto. Akan tetapi hujan yang sering turun beberapa hari belakangan ini menjadi kabar buruknya. Sebab jalur akan menjadi licin dan di aliri air layaknya air terjun kecil.

Jam tujuh seusai makan pagi bersama Tim Ekspedisi Srikandi Nusantara di kantin pabrik PTPN VII, mobil truk sudah tiba untuk mengangkut kami menuju Kampung IV. Berbagi tempat dengan ibu-ibu pemetik daun teh di dalam bak kayu mobil ini kami menikmati pemandangan sambil berbincang-bincang. Saya baru tahu kalau ada warga lokal yang bekerja sebagai pemetik teh, karena selama ini yang saya temui adalah orang-orang Jawa yang secara turun temurun bekerja di perkebunan ini. Medan menanjak sudah menanti di atas sana, secara bersama-sama kami melakukan senam pemanasan terlebih dahulu. Pendakian ini merupakan latihan sebelum tim melakukan pendakian di gunung-gunung lain dari Sabang sampai Merauke. Tiba di Shelter 1 menjelang jam dua belas siang, kami rehat untuk makan siang dan sholat. Bersama tiga orang teman saya turun ke sebelah kanan Shelter 1 untuk mengambil air minum. Target menginap di lembah Gunung Dempo pada malam pertama pendakian tak tercapai. Sebagian besar anggota tim mencapai Shelter 2 pada jam empat sore. Hujan cukup menghambat pergerakan kami, benar saja dugaan saya jika hujan akan turun sekitar jam dua siang seperti hari-hari sebelumnya. Sudah sering saya mendengar cerita-cerita mistik tentang berbagai kejadian di Shelter 2. Alhamdulillah, semua berjalan lancar saat kami menginap di lokasi yang memiliki ketinggian 2.640 meter di atas permukaan laut (dpl) ini.

Bertepatan dengan hari Kartini 21 April 2012 kami sampai di TOP Dempo, satu dari dua puncak gunung ini. Usai berfoto dan menyantap makanan ringan sebagai tanda perayaan pencapaian puncak, kami turun ke lembah guna mendirikan tenda tempat peraduan malam kedua pendakian. Para pendaki di sini menyebut lembah sebagai Pelataran. Dengan sungai kecil di tengahnya, Pelataran berada di antara dua puncak; TOP Dempo dan puncak Gunung Api Dempo. Hujan kembali turun, kali ini lebih deras dari hari sebelumnya. Rencana summit attack ke puncak Gunung Api Dempo sore itu pun di batalkan. Beberapa kali saya terbangun saat menjelang pagi, ternyata gerimis masih setia membasahi tenda. Matahari bersinar terang, hujan pun mereda. Tim mulai bergerak menapaki tanjakan batu terjal menuju puncak Gunung Api Dempo, titik tertinggi gunung ini dan di Provinsi Sumatera Selatan. Jalur menuju puncakan banyak yang bercabang di bagian awalnya, sering kali pendaki tersesat di sini karena semua tampak hampir sama. Memilih jalur yang tampak jelas atau ada bekas tanda baru di lewati biasanya membimbing kita ke jalan yang sebenarnya. Ketika hendak turun dari puncakan, saya sering mengambil orientasi jalur yang lurus dengan tiang bendera Ekspedisi Bukit Barisan 2011 di lembah. Puncakan Gunung Api Dempo di penuhi pohon Cantigi yang oleh warga lokal di sebut sebagai Kayu Panjang Umur (KPU) karena tumbuhan ini tetap kuat dan utuh walau telah lama di simpan biasanya sebagai hiasan juga ‘oleh-oleh’ dari pendakian gunung ini layaknya si bunga abadi; edelweis.

Waktu terbaik untuk naik ke puncak ialah ketika pagi hari. Biasanya cuaca cerah, kabut belum turun menutup kawah dan seluruh bagian gunung ini. Sebagai bonus jika kita beruntung, akan terlihat Bukit Serelo atau juga di sebut Bukit Jempol di Kabupaten Lahat, hamparan Kota Pagar Alam, jajaran Bukit Barisan juga wilayah Provinsi Bengkulu terlihat dari puncak. Kamera kita akan sibuk merekam bingkai-bingkai indah lanskap di hadapannya. Begitu juga dengan teman-teman  seperjalanan saya, silih berganti mereka berpose dengan latar belakang kawah yang memiliki diameter 3.000 meter. Meski demikian kita harus memperhatikan posisi berdiri, karena di kanan dan kiri terdapat jurang terjal yang siap menyambut kita jika tidak berhati-hati dalam melangkah. Saya beberapa kali terdorong oleh angin yang cukup kuat, untunglah saya berada jauh dari bibir jurang dan kawah. Telah ada sejumlah orang yang di kabarkan menjadi korban karena jatuh di kawah ini. Beberapa di antaranya di kaitkan dengan hal-hal mistik. Banyak bekas berbagai sesaji yang di tinggalkan di puncak. Ada berupa nasi, minuman, rokok, buah jeruk nipis dan hio atau dupa. Sebagian besar di letakkan dalam batu-batu gunung yang tersusun melingkar. Saat mendekati tanggal 1 Suro pada sistem kalender Jawa, banyak dukun, peziarah dan  warga lokal mendaki puncak ini guna melakukan sejumlah ritual. Banyak orang di buat geli dengan tingkah laku para peziarah yang menggunakan busana serba hitam ini. Misalnya mereka berbicara sendiri seolah tengah berbincang dengan mahluk lain di hadapannya.

Awal bulan Februari 2012 yang lalu saya, Sutrisman Dinah dan Gathot Noor Umam yang tergabung dalam Tim Jelajah Pasemah melakukan pendataan ketinggian di Gunung Dempo. Ternyata tinggi puncaknya yang selama ini tercatat 3.159 meter di atas permukaan laut (dpl) berbeda dengan yang tertera di layar Global Positioning Sistem (GPS). Alat navigasi itu menunjukkan angka 3.183 meter di atas permukaan laut sebagai daratan tertinggi di sini yang letaknya berdekatan dengan alat pendata aktivitas vulkanik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).Telepon genggam yang baru saya aktifkan berdering, nomor telepon Bang Rio tertera pada layar. Rupanya rekan-rekan di sekretariat  di Jakarta menanti dan penasaran dengan kabar dari tim kami. Berita hangat atas meninggalnya Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Prof. Widjajono Partowidagdo, Ph.D saat mendaki Gunung Tambora (2.850 meter) di Pulau Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) membuat mereka khawatir di tambah komunikasi kami sejak tiga hari yang lalu terputus saat perangkat seluler saya matikan karena tidak ada sinyal di sepanjang jalur pendakian. Semua anggota tim tampak gembira dengan pendakian ini. Foto kawah hijau Gunung Api Dempo yang di unggah pada jejaring sosial setelah turun gunung mendapatkan berbagai apresiasi positif.  Di anggap beruntung karena kawah berwarna hijau saat di sana, hingga komentar; Keren!, Mantab Gan! memenuhi halaman situs pertemanan tersebut.

Logistik

Penerbangan dari Kota Jakarta menuju kota Palembang juga sebaliknya ada setiap hari dan tiap beberapa jam. Angkutan darat ke kota Pagar Alam dari kota Palembang; PO. Telaga Biru Putra: 0711-7078110. PO. Telaga Biru Wisata (antar alamat/ travel): 0711-7060070, ke kota Palembang dari kota Pagar Alam; PO. Telaga Biru Putra: 0730-621598. juga dari kota Jakarta dan kota Yogyakarta; PO. Telaga Indah Armada: 021-5544666. Menuju titik awal pendakian di Kampung IV atau Tugu Rimau (Cahaya Timur) kita bisa menumpang mobil truk PTPN VII, tarif Rp 50.000 – Rp 100.000 per tim atau rombongan, tergantung kesepakatan.

Penginapan:  Hotel Darma Karya: 0730-621297. Villa Seganti Setungguan: 0730-621736.

Villa dan Hotel Wisata Gunung Gare: 0730-625057, Hotel Mirasa: 0730-621266.

Perizinan pendakian dengan cara melapor dan menyerahkan surat jalan atau daftar nama pendaki dan tim kepada petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Pak Anton di dekat pabrik PTPN VII juga di rumah ketua RT Kampung IV.

Lokasi berkemah dan sumber air: Shelter 1dan Shelter 2 jalur Kampung IV, lembah Gunung Dempo. Tidak terdapat sumber air jika melalui jalur Tugu Rimau (Cahaya Timur).

Bawalah peralatan standar pendakian, makanan, jas hujan (ponco, rain coat), payung, perlengkapan yang tahan air atau di bungkus menggunakan kantong plastik. Bawa barang sesuai kebutuhan dan sebaiknya jangan menggunakan tas besar karena banyak jalur yang di lalui sempit, menanjak, melewati pohon tumbang dan ranting juga batang pohon dapat membuat tas tersangkut.
***

Artikel ini di muat pada Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) edisi bulan Agustus 2012.

Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) Agustus 2012

Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) Agustus 2012

Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) Agustus 2012

Majalah National Geographic Traveler (Indonesia) Agustus 2012

  1. pas nian,, sebelum artikel itu terbit di NG, aku jg dpt kawah ijo itu bulan Juni kmrn.. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 404 other followers

%d bloggers like this: